Saturday, June 4, 2011

BAB I FUNGSI BAHASA


BAB I

FUNGSI BAHASA

1. Pengertian Bahasa


Menurut Gorys Keraf (1997 : 1), Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Mungkin ada yang keberatan dengan mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya alat untuk mengadakan komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa dua orang atau pihak yang mengadakan komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang telah disepakati bersama. Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong-tong dan sebagainya. Tetapi mereka itu harus mengakui pula bahwa bila dibandingkan dengan bahasa, semua alat komunikasi tadi mengandung banyak segi yang lemah.
Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks daripada yang dapat diperoleh dengan mempergunakan media tadi. Bahasa haruslah merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bukannya sembarang bunyi. Dan bunyi itu sendiri haruslah merupakan simbol atau perlambang.
2. Aspek Bahasa
Bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifatarbitrer, yang dapat diperkuat dengan gerak-gerik badaniah yang nyata. Ia merupakan simbol karena rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia harus diberikan makna tertentu pula. Simbol adalah tanda yang diberikan makna tertentu, yaitu mengacu kepada sesuatu yang dapat diserap oleh panca indra.
Berarti bahasa mencakup dua bidang, yaitu vokal yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, dan arti atau makna yaitu hubungan antara rangkaian bunyi vokal dengan barang atau hal yang diwakilinya,itu. Bunyi itu juga merupakan getaran yang merangsang alat pendengar kita (=yang diserap oleh panca indra kita, sedangkan arti adalah isi yang terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan
2
reaksi atau tanggapan dari orang lain).
Arti yang terkandung dalam suatu rangkaian bunyi bersifat arbitrer atau manasuka.Arbitrer atau manasuka berarti tidak terdapat suatu keharusan bahwa suatu rangkaian bunyi tertentu harus mengandung arti yang tertentu pula. Apakah seekor hewan dengan ciri-ciri tertentu dinamakan anjing, dog, hund, chien atau
canis itu tergantung dari kesepakatan anggota masyarakat bahasa itu
masing-masing.
3. Benarkah Bahasa Mempengaruhi Perilaku Manusia?
Menurut Sabriani (1963), mempertanyakan bahwa apakah bahasa mempengaruhi perilaku manusia atau tidak? Sebenarnya ada variabel lain yang berada diantara variabel bahasa dan perilaku. Variabel tersebut adalah variabel realita. Jika hal ini benar, maka terbukalah peluang bahwa belum tentu bahasa yang mempengaruhi perilaku manusia, bisa jadi realita atau keduanya.
Kehadiran realita dan hubungannya dengan variabel lain, yakni bahasa dan perilaku, perlu dibuktikan kebenarannya. Selain itu, perlu juga dicermati bahwa istilah perilaku menyiratkan penutur. Istilah perilaku merujuk ke perilaku penutur bahasa, yang dalam artian komunikasi mencakup pendengar, pembaca, pembicara, dan penulis.
3. 1. Bahasa dan Realita
Fodor (1974) mengatakan bahwa bahasa adalah sistem simbol dan tanda. Yang dimaksud dengan sistem simbol adalah hubungan simbol dengan makna yang bersifat konvensional. Sedangkan yang dimaksud dengan sistem tanda adalah bahwa hubungan tanda dan makna bukan konvensional tetapi ditentukan oleh sifat atau ciri tertentu yang dimiliki benda atau situasi yang dimaksud. Dalam bahasa Indonesia katacecak memiliki hubungan kausal dengan referennya atau binatangnya. Artinya, binatang itu disebut cecak karena suaranya kedengaran seperti cak-cak-cak. Oleh karena itu kata cecak disebut tanda bukan simbol. Lebih lanjut Fodor mengatakan bahwa problema bahasa adalah problema makna. Sebenarnya, tidak semua ahli bahasa membedakan antara simbol dan tanda.
3
Richards (1985) menyebut katatable sebagai tanda meskipun tidak ada hubungan
kausal antara objek (benda) yang dilambangkan kata itu dengan katatabl e.
Dari uraian di atas dapat ditangkap bahwa salah satu cara mengungkapkan makna adalah dengan bahasa, dan masih banyak cara yang lain yang dapat dipergunakan. Namun sejauh ini, apa makna dari makna, atau apa yang dimaksud dengan makna belum jelas. Bolinger (1981) menyatakan bahwa bahasa memiliki sistem fonem, yang terbentuk dari distinctive features bunyi, sistem morfem dan sintaksis. Untuk mengungkapkan makna bahasa harus berhubungan dengan dunia luar. Yang dimaksud dengan dunia luar adalah dunia di luar bahasa termasuk dunia dalam diri penutur bahasa. Dunia dalam pengertian seperti inilah disebut realita.
Penjelasan Bolinger (1981) tersebut menunjukkan bahwa makna adalah hubungan antara realita dan bahasa. Sementara realita mencakup segala sesuatu yang berada di luar bahasa. Realita itu mungkin terwujud dalam bentuk abstraksi bahasa, karena tidak ada bahasa tanpa makna. Sementara makna adalah hasil hubungan bahasa dan realita.
3.2. Bahasa dan Perilaku
Seperti yang telah diuraikan di atas, dalam bahasa selalu tersirat realita. Sementara perilaku selalu merujuk pada pelaku komunikasi. Komunikasi bisa terjadi jika prosesdecoding danencoding berjalan dengan baik. Kedua proses ini dapat berjalan dengan baik jika baikencoder maupundecoder sama-sama memiliki pengetahuan dunia dan pengetahuan bahasa yang sama. (Omaggio, 1986).
Dengan memakai pengertian yang diberikan oleh Bolinger(1981) tentang realita, pengetahuan dunia dapat diartikan identik dengan pengetahuan realita. Bagaimana manusia memperoleh bahasa dapat dijelaskan dengan teori-teori pemerolehan bahasa. Sedangkan pemerolehan pengetahuan dunia (realita) atau proses penghubungan bahasa dan realita pada prinsipnya sama, yakni manusia memperoleh representasi mental realita melalui pengalaman yang langsung atau melalui pemberitahuan orang lain. Misalnya seseorang menyaksikan sebuah kecelakaan terjadi, orang tersebut akan memiliki representasi mental tentang kecelakaan tersebut dari orang yang langsung menyaksikannya juga akan
4
membentuk representasi mental tentang kecelakaan tadi. Hanya saja terjadi
perbedaan representasi mental pada kedua orang itu.
4. Fungsi Bahasa
Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari.
Komunikasi lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak teliti berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut untuk berbahasa’ bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud tertentu, kita cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau mencampurkan bahasa standar dengan bahasa nonstandar atau bahkan, mencampurkan bahasa atau istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa bersifat sangat luwes, sangat manipulatif. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Lihat saja, bagaimana pandainya orang-orang berpolitik melalui bahasa. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Agar dapat memanipulasi bahasa, kita harus mengetahui fungsi-fungsi bahasa.
Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).
Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia
5
persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi. Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu (Sunaryo, 1993, 1995).
Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).
Hasil pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa yang digunakan. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan buah pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat modern. Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat modern.
4.1 Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri
Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam perkembangannya, seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan
6
lingkungan di sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.
Sebagai contoh lainnya, tulisan kita dalam sebuah buku, merupakan hasil ekspresi diri kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. Akan tetapi, pada saat kita menulis surat kepada orang lain, kita mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. Kita memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita.
Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.
Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain :
- agar menarik perhatian orang lain terhadap kita,
- keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi
Pada taraf permulaan, bahasa pada anak-anak sebagian berkembang
sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri (Gorys Keraf, 1997 :4).
4.2 Bahasa sebagai Alat Komunikasi
Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi
7
semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh
orang-orang yang sezaman dengan kita.
Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4).
Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita.
Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu, seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya, katamakro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun katabesar atauluas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata
griya, misalnya, lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumahatau wisma.
Dengan kata lain, kata besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas, atau nuansa tradisional.
Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.
8
4.3 Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial
Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).
Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.
Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata
Kamuatau Saudaraatau Bapakatau Anda? Bagi orang asing, pilihan kata itu
penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan katakamu untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.
9
4.4 Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.
Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.
Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.
5. Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar
Bahasa bukan sekedar alat komunikasi, bahasa itu bersistem. Oleh karena itu, berbahasa bukan sekedar berkomunikasi, berbahasa perlu menaati kaidah atau aturan bahasa yang berlaku.
Ungkapan “Gunakanlah Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.” Kita tentu sudah sering mendengar dan membaca ungkapan tersebut. Permasalahannya adalah pengertian apa yang terbentuk dalam benak kita ketika mendengar ungkapan tersebut? Apakah sebenarnya ungkapan itu? Apakah yang dijadikan alat ukur (kriteria) bahasa yang baik? Apa pula alat ukur bahasa yang benar?
10
5.1 Bahasa yang Baik
Penggunaan bahasa dengan baik menekankan aspek komunikatif bahasa. Hal itu berarti bahwa kita harus memperhatikan sasaran bahasa kita. Kita harus memperhatikan kepada siapa kita akan menyampaikan bahasa kita. Oleh sebab itu, unsur umur, pendidikan, agama, status sosial, lingkungan sosial, dansudut
pandang khalayak sasaran kita tidak boleh kita abaikan. Cara kita berbahasa
kepada anak kecil dengan cara kita berbahasa kepada orang dewasa tentu berbeda. Penggunaan bahasa untuk lingkungan yang berpendidikan tinggi dan berpendidikan rendah tentu tidak dapat disamakan. Kita tidak dapat menyampaikan pengertian mengenaijembatan, misalnya, dengan bahasa yang sama kepada seorang anak SD dan kepada orang dewasa. Selain umur yang berbeda, daya serap seorang anak dengan orang dewasa tentu jauh berbeda.
Lebih lanjut lagi, karena berkaitan dengan aspek komunikasi, maka
unsur-unsur komunikasi menjadi penting, yakni pengirim pesan, isi pesan, media
penyampaian pesan,dan penerima pesan. Mengirim pesan adalah orang yang akan
menyampaikan suatu gagasan kepada penerima pesan, yaitu pendengar atau pembacanya, bergantung pada media yang digunakannya. Jika pengirim pesan menggunakan telepon, media yang digunakan adalah media lisan. Jika ia menggunakan surat, media yang digunakan adalah media tulis. Isi pesan adalah gagasan yang ingin disampaikannya kepada penerima pesan.
Marilah kita gunakan contoh sebuah majalah atau buku. Pengirim pesan dapat berupa penulis artikel atau penulis cerita, baik komik, dongeng, atau narasi. Isi pesan adalah permasalahan atau cerita yang ingin disampaikan atau dijelaskan. Media pesan merupakan majalah, komik, atau buku cerita. Semua bentuk tertulis itu disampaikan kepada pembaca yang dituju. Cara artikel atau cerita itu disampaikan tentu disesuaikan dengan pembaca yang dituju. Berarti, dalam pembuatan tulisan itu akan diperhatikan jenis permasalahan, jenis cerita, dan kepada siapa tulisan atau cerita itu ditujukan.
11
5.2 Bahasa yang Benar
Bahasa yang benar berkaitan dengan aspek kaidah, yakni peraturan bahasa. Berkaitan dengan peraturan bahasa, ada empat hal yang harus diperhatikan, yaitu masalah tata bahasa, pilihan kata, tanda baca, danejaan. Pengetahuan atas tata bahasa dan pilihan kata, harus dimiliki dalam penggunaan bahasa lisan dan tulis. Pengetahuan atas tanda baca dan ejaan harus dimiliki dalam penggunaan bahasa tulis. Tanpa pengetahuan tata bahasa yang memadai, kita akan mengalami kesulitan dalam bermain dengan bahasa.
Kriteria yang digunakan untuk melihat penggunaan bahasa yang benar adalah kaidah bahasa. Kaidah ini meliputi aspek (1) tata bunyi (fonologi), (2)tata bahasa (kata dan kalimat), (3) kosa kata (termasuk istilah), (4), ejaan, dan (5) makna. Pada aspek tata bunyi, misalnya kita telah menerima bunyi f, v dan z. Oleh karena itu, kata-kata yang benar adalah fajar, motif, aktif, variabel, vitamin, devaluasi, zakat, izin, bukan pajar, motip, aktip, pariabel, pitamin, depaluasi, jakat, ijin. Masalah lafal juga termasuk aspek tata bumi. Pelafalan yang benar adalah kompleks, transmigrasi, ekspor, bukan komplek, tranmigrasi, ekspot.
Pada aspek tata bahasa, mengenai bentuk kata misalnya, bentuk yang benar adalah ubah, mencari, terdesak, mengebut, tegakkan, dan pertanggungjawaban, bukan obah, robah, rubah, nyari, kedesak, ngebut, tegakan dan pertanggung jawaban. Dari segi kalimat pernyataan di bawah ini tidak benar karena tidak mengandung subjek. Kalimat mandiri harus mempunyai subjek, predikat atau dan objek.
(1) Pada tabel di atas memperlihatkan bahwa jumlah wanita lebih banyak
daripada jumlah pria.
Jika kata pada yang mengawali pernyataan itu ditiadakan, unsur tabel di atas menjadi subjek. Dengan demikian, kalimat itu benar. Pada aspek kosa kata, kata-kata seperti bilang, kasih, entar dan udah lebih baik diganti dengan berkata/mengatakan, memberi, sebentar, dan sudah dalam penggunaan bahasa yang benar. Dalam hubungannya dengan peristilahan, istilah dampak (impact), bandar udara, keluaran (output), dan pajak tanah (land tax) dipilih sebagai istilah yang benar daripada istilah pengaruh, pelabuhan udara, hasil, dan pajak bumi. Dari
12
segi ejaan, penulisan yang benar adalah analisis, sistem, objek, jadwal, kualitas, dan hierarki. Dari segi maknanya, penggunaan bahasa yang benar bertalian dengan ketepatan menggunakan kata yang sesuai dengan tuntutan makna. Misalnya dalam bahasa ilmu tidak tepat jika digunakan kata yang sifatnya konotatif (kiasan). Jadi penggunaan bahasa yang benar adalah penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa.
Kriteria penggunaan bahasa yang baik adalah ketepatan memilih ragam bahasa yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi. Pemilihan ini bertalian dengan topik yang dibicarakan, tujuan pembicaraan, orang yang diajak berbicara (kalau lisan) atau pembaca (jika tulis), dan tempat pembicaraan. Selain itu, bahasa yang baik itu bernalar, dalam arti bahwa bahasa yang kita gunakan logis dan sesuai dengan tata nilai masyarakat kita. Penggunaan bahasa yang benar tergambar dalam penggunaan kalimat-kalimat yang gramatikal, yaitu kalimat-kalimat yang memenuhi kaidah tata bunyi (fonologi), tata bahasa, kosa kata, istilah, dan ejaan. Penggunaan bahasa yang baik terlihat dari penggunaan kalimat-kalimat yang efektif, yaitu kalimat-kalimat yang dapat menyampaikan pesan/informasi secara tepat (Dendy Sugondo, 1999 : 21)..
Berbahasa dengan baik dan benar tidak hanya menekankan kebenaran dalam hal tata bahasa, melainkan juga memperhatikan aspek komunikatif. Bahasa yang komunikatif tidak selalu hanus merupakan bahasa standar. Sebaliknya, penggunaan bahasa standar tidak selalu berarti bahwa bahasa itu baik dan benar. Sebaiknya, kita menggunakan ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan disamping itu mengikuti kaidah bahasa yang benar (Alwi dkk., 1998: 21)





Cerita Drama


Kepada Guru honorer sekecamatan Pasirian
dengan turunnya surat ini kami sebagai pemerintah memutuskan bahwa gaji para guru honorer,dibayar dengan gaplek,keputusan ini sudah disepakati oleh DPRD kabupaten lumajang.
atas perhatianya kami ucapkan terima kasih.



PERAN/TOKOH
  1. RAKYAT
  2. ANGGOTA DPR
  3. PAK LURAH
  4. PARA GURU
  5. PENGETIK
TOKOH UTAMA
CERITA
pada suatu hari disebuah kecamatan yang amat sangat damai,dimana masrakatnya sangat kolot, yang bernama pasirian kabupaten lumajang.terjadi suatu kesalah pahaman.dimana sebuah surat yang turun dari pemeritah yang diantarkan oleh pegawai kantor kabupaten.yang diberikan kepada kecamatan untuk diserahkan kepada para guru honorer.yang mana surat itu berisikan bahwa gaji para guru honorer dibayar dengan konplek.lalu semua guru honorer salah mengartikan karena surat itu salah dalam pengetikanya.para guru dan masarakat diajak untuk pergi protes ke kantor DPRD. lalu para anggota DPRD keluar untuk menanggapi protesnya para guru.dan diadakan pertemuan darurat,dan teryata yang salah adalah seeorang sekertaris yang waktu menulisnya dengan sedikit banyak ngantuk.

  1. agus sebagai juru ketik
  2. yudho,angga sebagai pegawai kabupaten
  3. andi sebagai pak camat
  4. guru: novi,ambar, agis,endah,vivin,reni,ano,rian,hamsah,samsul ,azis,
  5. angota DPRD : ,samin,anggoro,lusi pratama wati,puji lestari.
  6. dpr 1: puji p.
  7. dpr2:anggoro
  8. narator : darmi


dialog
pada suatu hari ada salah satu orang anggota DPRD. menyuruh sekretaris untuk membuat surat
anggota dpr 1 : ”pak ali tolong anda buatkan surat kepupusan tentang kenaikan gaji guru honorer yang akan dibayar komplek.”
pak ali:”baik pak,suratnya dibuat kapan?”
anngota DPR1:”nanti setelah kiamat
ya sekarang dong,bapak ini suka bercanda.”
pak ali: “okelah kalau begitu pak.”
anggota dpr 1:” ya sudah kalau begitu saya tingal dulu ya?”
lalu sekrtaris itu membuat surat keputusan tadi sambil agak ngantuk.setelah beberama lama surat itu pun jadi.dia pun pergi untuk memberikan surat itu kepada anngota dpr.
pak ali :”permisi, permisi pak”.
dpr2:”ya ada apa pak?,ada yang bisa saya bantu?”
pak ali:oh ini pak saya tadi disuruh buat surat keputusan oleh pak yanto.”
DPR2:” ooooooo.....,pak ali ya?”
pak ali:”iya”
DPR2:”o iya pak tadi saya diberi pesan oleh pak priyanto kalau suratnya datang disuruh mengasihkan ke saya pak.”
pak ali:”ya udah kalau gitu pak, ini suratnya”
dpr2:”makasih ya pak.”
pak ali: “okelah pak kalau begitu”
lalu pak ali pun pergi meninggalkan DPR 2. DPR2 pun memanggil kedua pegawai kabupaten untuk mengantarkan surat keputusan itu ke kecamatan.
DPR2;”ahmad dan hendro,tolong kesini sebentar.”
ahmad:”ya ada apa pak?”
DPR2:”tolong antarkan surat ini ke kecamatan pasirian,bilang surat ini dari DPRD kabupaten lumajang.”
ahmad:”baik pak.”
endro:”pak uang transpotnya dos pundi ?”
DPR2: “kamu ini belum kerja sudah minta upah,ini.. cepet ya”
endro:”baik bos”
dan berangkatlah kedua utusan dari DPRD untuk pergi mengantarkan surat itu ke kantor kecamatan pasirian.sesampainya di kecamatan.
endro:”permisi assalamualaikum,samborasun,spada,nuwun sewu”
ahmad:”bodoh kekantor kecamatan seperti kerumah pak ki’yai.pakek salam segala”
endro:”emangnya tidak boleh kalau kekecamatan mengucapkan salam?,kita kan sebagai umat muslim harus mengucapkan salam sebelum masuk.”
ahmad:”uuuhh,gaya kamu udah kayak ustad aja”
gatot:”he, dapa ini kok ribut disini.?”
endro: “lho gatot.”
gatot:”endro”
endro :”apa kabar?”
gatot:”baik”
ahmad :”dro memang kamu kenal ta?”
endro:”ya kenal lah kan teman aku waktu sekolah dulu.”
endro:”oh iya tot,kenalin anak buah aku di kantor DPRD.”
ahmad:”anak buah gundulmu !”
ahmad:”ahmad mas”
gatot:”gatot”
gatot:”ada kepentingan apa ya..? kok sampai di sini.”
ahmad:”begini mas ada keperluan sebentar dengan pak camat,mau mengantarkankan surat keputusan dari kantor.”
gatot:”ooooo,begitu,mri saya antar ke pak camat”
merka pun pergi menuju ruangan pak camat.
gatot:”permisi pak”
pak camat:”ya ada apa tot?”
gatot:”ini pak ada tamu dari kantor DPRD.”
pak camat:”oooo silahkan duduk pak.ada kepentingan apa ya?”
ahmad:”begini pak saya diutus dari kantor DPRD untuk mengantarkan surat keputusan tentang gaji para guru honorer.”
pak camat:”oooooooo”
Dan pak camat pun membaca isi surat tersebut.
pak camat:”baiklah saya akan memberi tahukan kepada para guru honorer yang ada dikecamatan pasirian.”
ahmad:”ya sudah kalau begitu pak,saya permisi mau kembali kekantor masih banyak tugas dikantor pak.”
pak camat:”ooo,iya silahkan terimakasih ya”
ahmad:”sama-sama pak sudah kuwajipan saya melaksakan tugas.”
kedua pegawai kantor DPRD itu pergi meninggalkan kantor kecamatan.
pak camat:”gatot”
gatot:”ya pak”
pak camat:”sekarang kamu perbanyak surat ini dan kamu sebarkan surat ini ke sekolah-sekolah yang ada di kecamatan ini.”
gatot:”baik pak”
dan berangkatlah gatot untuk menyebarkan surat tersebut.
setelah surat itu desebar luaskan,banyak guru honorer yang tidak bisa menerima keputusan sepihak.dan para guru honorer mengadakan rapat dan mereka sepakat untuk ber unjuk rasa kekantor DPRD




Season ke-2
keesokan harinya setelah rapat dengan para guru honorer,guru honorerpun mengadakan njuk rasa didepan kantor DPRD. Para guru honorer berdemo untuk meminta kejelasan isi surat yang mereka terima.
Guru 1: “tingkatkan kesejahteraan guru honorer !!!”
Guru 2: “bayar kami dengan uang !!”
Guru 3: “hargai jerih payah kami !!”
Anggota DPR 1 :”ibu-ibu,bapak-bapak sekalian ada apa ini,ada apa ??kok rame banget ..”
Guru 1:”bagaimana ini pak kejelasan surat yang anda kirim ke kecamatan ?
Anggota DPR 1:”kejelasan tentang surat apa tow buuuk paaak??”
Guru 1:”ini lho pak surat keputusan tentang gaji guru honor yang anda kirim....”
Anggota DPR 1:”iya,iya kita bicarakan baik-baik..”.”Apa masalah anda dengan surat itu ?”
Guru 1:”tolong bapak baca surat ini baik-baik,masak kami dibayar pakai gaplek ??”
seandainya anda jadi guru honorer,apa anda mau dibayar pakai gaplek,,pikirkan donk pak,jangan asal ngirim saja !!”
Anggota DPR 1:”gaplek gimana tow bu ?”
“ya sudah begini saja,kita bicarakan masalah ini baik-baik,tolong anda masuk ke dalam sebagai perwakilan dari para guru disini,,”
Season ke-3
Dalam forum rapat yang diadakan mendadak terjadilah suatu perdebatan antara beberapa perwakilan guru dan beberapa anggota DPR yang terlibat.
Guru 1:”bagaimana ini pak, masak guru dibayar gaplek,yang benar saja,,”
DPR 1:”iya bu,tenang dulu !!
Guru 1:”saya ini butuhnya sekarang pak bukan dulu.”
DPR 1:”iya buk,iya,tenang..saya akan bicara dengan bapak camat dulu.”
Guru 1:”SEKARANG PAK !!!”
DPR 1:”iya buk sekarang”
“bagaimana pak duduk permasalahannx ?”
Pak camat:”saya pak yang duduk bukan permasalahan.”
anggota DPR 1 sambil mengelus dada..
DPR 1:” maksud saya dimana letak permasalahan ini ??”
pak camat:”ya saya tidak tau,memang bapak meletakanya dimana?”
DPR1:”aduh pak?yang saya maksud adalah apa yang menyebapkan masalah ini terjadi,begitu lo pak.....!”
pak camat:”ooooo,gitu dong gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar,bu kanapa anda dan semua guru honorer berunjukrasa?”
guru 1:”begini pak masak saya dibayar dengan gaplek.!”
pak camat:”lo pak kenapa para guru honorer dibayar dengan gaplek,memengya guru jaman dulu.”
DPR1:”lo sapa pak yang membayar dengan gaplek..!?”
guru 1:”ini ditulis didalam surat bahwa guru honorer akan dibayar dengan gaplek”
pak camat:”coba saya lihat bu.”
guru 1:”ini pak”
pak camat:lo iya pak ini kok ditulis dengan gaplek?”
dpr1:”mana to pak”
pak camat:”ini”
dpr1:”lhoooooo,ini salah pak,yang benar itu komplek bukan gaplek, ini pasti salah pengetikan ini. biar saya suruh orang untuk memanggil pak ali.”
pak camat:”siapa lagi pak ali itu?”
dpr1:”orang yang saya suruh membuat suirat ini pak.”
pak camat:”ooooooo......”
dpr1:”ahmad,ahmad,ahmad..........”
ahmad:”ya ada pak ?”
dpr1:”tolong kamu panggilkan pak alisuruh kesini ya.”
ahmad:”sekarang pak?”
dpr1:”tahun depan,ya sekarang dong,bagaimana kamu ini?”
ahmad:”ya begini pak.”
dpr1:”cepat berangkat jangan banyak bicara kamu!!!!!!!!”
lalu di pngagilnya pak ali aloh ahmad,dan masuklah pak ali keruangan tersebut.
pak ali:”ada pak ada yang perlu saya buat lagi?”
dpr1:”ini pak surat yang bapak buat salah.”
pak camat:”iya pak”
pak ali:”mana mungkin pak saya but surat salah,saya sudah lama jadi pembuat surat diDPR.”
guru1:”tapi ini kok buktinya salah pak.”
pak camat:”coba liha ini pak masak guru honorer digaji dengan gaplek.”
pak ali :”coba saya lihat pak.”
“ooooo,maaf ini saya salah ketik pak hehehehe...,maaf ya pak soalnya kemarin saya nulisnya agak ngantuk.”
guru 1:”kok bisa begitu pak?”
pak ali:”iya buk soalnya kmrin saya begadang melihat sepak bola,arema melawan mancesrter unaitid,hehehehehe...”
dpa1:”anda ini malu-maluin orang dpr saja.”
pak ali:”alah pak orang yang ada diatas sana saja malu-maluin tapi mereka tidak malu pak.”
pak camat:”yasudah jadi msalahnya ini karena salah penulisan surat,yang mana seharusnya ditulis komplek malah ditulis gaplek,butul begitu pak?”
dpr1 dan pak ali:”iya pak.”
guru1:”jadi kami tidak dibayar dengan gaplek pak?”
dpr1:”ya tidak dong bu.”
guru1:”allhamdulilah.
pak camat:”yasudah kalau begitu permasalahanya sudah selesai,ibu guru silahkan beritau teman-temannya bahwa guru honorer tidak dibayar gaplek tapi komplek.
guru1:”baik pak.”
Dan guru itu memberitau semua guru honorer bahwa mereka akan dibayar komplek bukan gaplek.lalu daerah pasirian pun kembali tentram dan damai tidak ada lagi kesalah pahaman atau salah kapra.
TAMAT