Saturday, March 30, 2013

SASTRA BANDINGAN: PINTU MASUK KAJIAN BUDAYA STUDI KASUS ROMEO DAN JULIA, SONEZAKI SHINJU, UDA DAN DARA

Maman S. Mahayana



Ada dua hal yang sangat mungkin menjadi problem dalam sastra bandingan (comparative literature) sebagai sebuah disiplin ilmu. Pertama, persoalan yang menyangkut konsep sastra bandingan. Dalam banyak rumusan atau definisi sastra bandingan pada umumnya, penekanan perbandingan pada dua karya atau lebih dari sedikitnya dua negara yang berbeda menjadi pusat perhatian yang utama. Jadi, sebuah perbandingan dua karya atau lebih yang berasal dari dua negara, termasuk ke dalam wilayah sastra bandingan. Jika kita membandingkan dua karya yang berasal dari dua kultur etnik yang berbeda –Sunda dan Jawa, misalnya—, padahal kedua karya itu berada dalam wilayah negara yang sama, apakah termasuk ke dalam wilayah sastra bandingan. Pertanyaan yang sama dapat diajukan ketika kita membandingkan sastra Singapura dengan sastra Taiwan yang keduanya memakai bahasa Mandarin atau sastra Brunei Darussalam dengan sastra Malaysia yang keduanya memakai bahasa Melayu. Pertanyaan yang sama tentu saja dapat kita kemukakan lebih panjang lagi. Jadi, jika kita mengamati karya-karya dari berbagai negara yang menggunakan bahasa yang sama atau sastra dari berbagai daerah dalam satu negara, maka ternyata bahwa rumusan sastra bandingan yang menekankan pada perbedaan negara, justru akan mengundang masalah konseptual. Dalam konteks itulah, perlu kiranya kita mempertanyakan kembali rumusan-rumusan sastra bandingan yang pernah ada.

Masalah kedua menyangkut praktik sastra bandingan sebagai sebuah kajian. Apakah praktik sastra bandingan hanya sebatas membandingkan dua teks sastra atau lebih jauh dari itu dengan mencantelkan analisis atau interpretasinya pada kebudayaan dan kehidupan kemasyarakatan yang melahirkannya. Jika perbandingannya itu hanya menyangkut dua atau lebih teks sastra yang berbeda, maka hasil perbandingan itu hanya akan sampai pada perbedaan dan persamaan tekstual. Dari sana mungkin kita akan sampai juga pada persoalan reputasi dan penetrasi, dan pengaruh-mempengaruhi. Jika demikian halnya, maka perbandingan itu akan tetap berkutat pada persoalan tekstual. Jadi, apakah tujuan sastra bandingan hanya sampai pada pengungkapan perbedaan dan persamaan dua teks atau lebih. Oleh karena itu, patutlah dipertimbangkan tujuan sastra bandingan yang tidak hanya sampai pada perbandingan dua teks sastra yang berbeda dan mengungkapkan persamaan dan perbedaan tekstual, tetapi juga coba menelusuri persamaan dan perbedaannya itu sebagai bagian dari dua produk budaya yang dilahirkan dari dua kehidupan sosio-budaya yang berbeda.
Sebelum memasuki pada pembicaraan beberapa karya sastra yang hendak dijadikan contoh kasus studi sastra bandingan, alangkah baik jika kita memperhatikan dahulu sejumlah rumusan mengenai sastra bandingan. Dari rumusan itu, serta dengan mengungkapkan beberapa kasus terjadinya problem konseptual, boleh jadi pula kita akan memperoleh rumusan yang lebih pas; atau paling sedikit, kita dapat meninjau sejauh mana rumusan sastra bandingan masih dapat dipertahankan dan alternatif apa yang perlu dikedepankan.
***
Dalam kamus Websters,[1] dikemukakan bahwa sastra bandingan mempelajari hubungan timbal balik karya sastra dari dua atau lebih kebudayaan nasional yang biasanya berlainan bahasa, dan terutama pengaruh karya sastra yang satu terhadap karya sastra lain. Sementara itu, menurut Rene Wellek dan Austin Warren[2] ada tiga pengertian mengenai sastra bandingan. Pertama, penelitian sastra lisan, terutama tema cerita rakyat dan penyebarannya. Kedua, penyelidikan mengenai hubungan antara dua atau lebih karya sastra, yang menjadi bahan dan objek penyelidikannya, di antaranya, soal reputasi dan penetrasi, pengaruh dan kemasyhuran karya besar. Ketiga, penelitian sastra dalam keseluruhan sastra dunia, sastra umum dan sastra universal.
Sejalan dengan pendapat Wellek dan Warren, Holman[3] mengungkapkan, bahwa sastra bandingan adalah studi sastra yang memiliki perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan dan pengaruhnya antara karya yang satu terhadap karya yang lain, serta ciri-ciri yang dimilikinya.
Hal senada dikemukakan Remak[4] yang mengungkapkan sebagai berikut: “Sastra bandingan adalah studi sastra yang melewati batas-batas suatu negara serta hubungan antara sastra dan bidang pengetahuan dan kepercayaan lain.” Ringkasnya, sastra bandingan adalah perbandingan karya sastra yang satu dengan satu atau beberapa karya sastra lain, serta perbandingan karya sastra dengan ekspresi manusia dalam bidang lain. Lebih lanjut Remak menekankan, perbandingan antara karya sastra dan bidang di luar sastra hanya dapat diterima sebagai sastra bandingan, jika perbandingan keduanya dilakukan secara sistematis dan bidang di luar sastra itu dapat dipisahkan dan mempunyai pertalian logis.
Berdasarkan sejumlah definisi atau pengertian mengenai sastra bandingan, Robert J. Clements melihat sastra bandingan sebagai studi yang pendekatannya meliputi aspek: (1) tema/mitos, (2) jenis/bentuk, (3) aliran/zaman, (4) hubungan sastra dengan seni dan bidang lain, dan (5) sastra sebagai gambaran sejarah kritik dan teori sastra. [5]
***
Definisi yang tertulis dalam kamus Websters, jelas hanya memberikan pengertian yang sangat umum. Pertama, kamus itu bukan kamus khusus mengenai kesusastraan. Kedua, kamus itu merupakan kamus yang memuat kosa kata yang umum digunakan dalam bahasa Inggris. Dengan demikian, terlalu riskan jika kita melandasi pengertian sastra bandingan hanya dari sebuah entri yang terdapat dalam kamus umum seperti itu. Sesungguhpun begitu, ternyata rumusan yang umum itu dikemukakan pula oleh Wellek dan Warren dan Remak. Dalam konteks ini, kita masih dapat memperkuat rumusan itu dengan menyinggung sejumlah kasus dalam kesusastraan beberapa negara. Masalah yang menyangkut dua atau lebih kebudayaan nasional dan pengaruh karya sastra terhadap karya sastra lain, misalnya, dalam kesusastraan Indonesia, bukanlah hal yang baru. Sebutlah kasus Hamka--Manfaluthi[6] dan Chairil Anwar--Archibald Macleish.[7] Sebenarnya, kita masih dapat menyebut kasus serupa yang belum banyak diungkapkan. Novel Angin Musim (1986) karya Mahbub Djunaedi, misalnya, ternyata mempunyai banyak persamaannya dengan novel Natsume Soseki, I’m a Cat (1972).[8] Kedua novel ini menampilkan tokoh kucing yang menceritakan berbagai pengalaman manusia. Lewat tokoh yang lain, sastrawan Malaysia, Hassan Ibrahim dalam Tikus Rahmat (1963) menampilkan tokoh tikus berikut dunia pertikusannya. Dalam hal ini, Tikus Rahmat ternyata mempunyai kesamaan dengan Animal Farm (1945) karya George Orwell.
Untuk kasus-kasus yang disebut terakhir, boleh jadi kita masih dapat memasukkan persoalannya ke dalam wilayah sastra bandingan. Artinya, lewat studi sastra bandingan, kita masih dapat menerima bahwa sangat mungkin Mahbub Djunaedi terpengaruh oleh karya Natsume Soseki. Demikian pula dengan Hassan Ibrahim yang dari berbagai ulasan mengenai Tikus Rahmat, dianggap telah menyerap pengaruh Orwell.
[9] Tetapi bagaimana dengan kasus Hamka dan Chairil Anwar yang telah disebutkan tadi, hanya sebatas pengaruh-mempengaruhi yang masih termasuk wilayah sastra bandingan, atau bentuk lain dari saduran? Atau, apa yang oleh Sapardi Djoko Damono disebut sebagai pengkhianatan kreatif?[10]
Kembali, jika perbandingan sejumlah karya yang disebutkan tadi hanya sebatas perbandingan antarteks, maka hasilnya hanya sampai pada pengungkapan persamaan dan perbedaan tekstual. Pertanyaan yang lebih substansial: mengapa terjadi persamaan dan perbedaan, tetap bersembunyi tanpa ada usaha untuk coba mengungkapkannya. Dan ketika kita coba menemukan jawabannya, maka tidak dapat lain, teks mesti diperlakukan merepresentasikan konteks sosio-kultural yang melahirkannya. Maka, perbandingan itu mestinya lebih jauh menyentuh latar belakang proses kelahiran teks yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sosial budaya yang terjadi pada zamannya. Di sinilah tujuan sastra bandingan sesyogianya tidak berhenti hanya sebatas menemukan persamaan dan perbedaan tekstual, melainkan terus menukik pada berbagai persoalan kemasyarakat dan kebudayaan yang melahirkannya.
Sebagai contoh kasus, berikut akan dibincangkan tiga karya Inggris (Romeo dan Julia karya William Shakespeare), Jepang (Sonezaki Shinju karya Chikamatsu Monzaemon), dan cerpen Malaysia (“Uda dan Dara” karya Usman Awang).
***
Romeo dan Julia[11] karya William Shakespeare (1564—1616) menurut Trisno Sumardjo yang menerjemahkan karya itu, pokok ceritanya bersumber dari cerita lisan orang lain. Berikut keterangan yang disampaikan Sumardjo:
Menurut anggapan penduduk Verona, riwayat ini (Romeo dan Julia, MSM)) terjadi tahun 1303, dan pada kaum pelancong mereka tunjukkan rumah keluarga Capulet serta kubu pemakaman asyik masyuk itu. Tahun 1535 diterbitkan sebuah cerita pendek bernama La Giulietta oleh Luigi da Porto dari Vicenza, ditulis menurut kisah yang dituturkan padanya oleh seorang prajurit tua. Pada tahun 1554 dikisahkan oleh Bandello dalam cerita pendek Itali tentang hikayat Romeo dan Julia. Dari situ Pierre Boisteaux membuat cerita Perancis, dan tahun 1567 cerita ini dimasukkan oleh Painter dalam kumpulan ceritanya bernama Palace of Pleasures yng sering dipakai oleh Shakespeare. Sebelumnya, dalam tahun 1562 ada diterbitkan sebuah sajak epis dari tangan Arthur Brooke, namanya “The Tragicall Historye of Romeus and Juliet, written first in Italian by Bandell, and now in English by Ar. Br. (Arthur Brooke). Buah tangan Shakespeare lebih mendekati sajak ini daripada cerita Painter.[12]
Mencermati kutipan di atas, kita melihat bahwa cerita Romeo dan Julia merupakan cerita klasik yang sudah dikenal luas masyarakat sebelum Shakespeare mengangkat cerita itu ke dalam bentuk drama. Artinya adalah bahwa apa yang dilakukan Shakespeare atau sastrawan lainnya di dunia ini, bukanlah hal yang tabu dilakukan. Dalam hal ini, cerita-cerita lisan klasik atau karya-karya agung, tidak hanya berpotensi melakukan penetrasi dan menyebarkan pengaruhnya, tetapi juga inspiring (mengilhami), sehingga bermunculan cerita-cerita yang secara tematik mempunyai persamaan.[13] Pertanyaannya kini: apakah studi sastra bandingan cukup sampai pada kesimpulan adanya penetrasi dan pengaruh-mempengaruhi serta usaha mengungkapkan persamaan dan perbedaan secara tekstual atau juga mengungkapna faktor-faktor di luar teks?
Secara tematik, Romeo dan Julia bercerita tentang kisah kasih tak sampai yang menimpa diri pemuda Romeo dan gadis Julia. Permusuhan antara keluarga besar Montague –sebagai pihak Romeo—dan keluarga Capulet –sebagai pihak Julia—pada awalnya tidak dapat merintangi tumbuhnya perasaan cinta kedua sejoli itu. Romeo dan Julia pun bersepakat mengikat ikrar dalam tali perkawinan yang disahkan oleh pendeta Lorenzo. Tetapi, tewasnya kerabat dan sahabat Romeo, Mercutio oleh Tybalt, kerabat keluarga Capulet membuka kembali permusuhan antarkeluarga itu. Romeo terlibat dalam perkelahian berdarah. Pedangnya menewaskan Tybalt. Untuk menyelamatkan Romeo dari hukuman mati, pendeta Lorenzo menyuruhnya pergi dari Verona dan tinggal di Mantua.
Sementara itu duka cita Julia atas perpisahan dengan Romeo, dilihat oleh Capulet dan istrinya sebagai kesedihan atas kematian Tybalt. Maka, ketika datang Paris, pemuda bangsawan melamar Julia, keluarga Capulet menyambutnya bahagia. Hari perkawinan pun kemudian ditetapkan.
Julia tentu saja menolak rencana kedua orang tuanya menjodohkan dengan Paris. Tetapi, kesepakatan telah dibuat, hari perkawinan telah ditetapkan. Julia tak dapat berbuat apa-apa. Ia pun mendatangi pendeta Lorenzo. Untuk menyelamatkan kesucian cinta Romeo—Julia, pendeta Lorenzo merancang rencana. Disuruhlah Julia minum racun menjelang pesta perkawinan dengan Paris dilaksanakan. Menurut Lorenzo, jika racun itu diminum, Julia akan terbujur kaku seperti orang mati. Dua hari kemudian, ia akan siuman kembali. Pada saat itulah, Romeo datang dan membawa Julia pergi meninggalkan Verona.
Pesta perkawinan dengan Paris memang gagal. Julia dianggap mati bunuh diri karena minum racun. Jasadnya dimasukkan dalam peti mati dan kemudian disimpan di tempat pemakaman. Tetapi rencana tinggal rencana. Kabar yang diterima Romeo bukanlah skenario yang disusun pendeta Lorenzo, melainkan kabar tentang kematian Julia. Maka, Romeo segera datang ke pemakaman tempat Julia disemayamkan. Di sana, ia jumpa Paris. Perkelahian pun tak terhindarkan. Paris tewas. Romeo yang sudah putus pengharapannya, segera minum racun yang telah disiapkannya. Ia pun mati.
Beberapa saat setelah kematian Romeo, Julia siuman. Betapa kaget ketika dilihatnya Paris mati bersimbah darah dan Romeo terbujur kaku dengan tangan masih memegang botol racun. Menyadari segalanya telah berakhir, Julia mencabut belati Romeo dan ditusukkannya ke dadanya sendiri. Julia pun tewas seketika.
Tidak lama kemudian datanglah pendeta Lorenzo, Pangeran, keluarga Capulet dan keluarga Montague. Pendeta Lorenzo lalu menjelaskan duduk perkaranya. Tetapi, semua sudah terlambat. Penyesalan tak berguna lagi. Kedua keluarga –Capulet dan Montague—yang selama ini bermusuhan, menyadari kekeliruannya. Mereka pun bersepakat untuk mencipakan perdamaian.
Tragedi percintaan yang membawa kematian sepasang kekasih, dapat pula kita jumpai dalam karya Chikamatsu Monzaemon (1653—1724),
[14] berjudul Sonezaki Shinju (1703).[15] Hubungan percintaan Tokubei dan Ohatsu tidak sampai ke pelaminan, karena Tokubei yang menolak dikawinkan dengan kemenakan pamannya, tidak dapat membayar biaya hidupnya selama tinggal bersama pamannya, yang juga majikannya.
Kisahnya dimulai dari perjumpaan Tokubei dan Ohatsu di sebuah kuil. Tokubei bekerja sebagai karyawan kedai kecap milik pamannya, sedangkan Ohatsu bekerja sebagai wanita penghibur di kedai Temaya. Kedua insan itu menjalin hubungan cinta secara sembunyi-sembunyi.
Kegigihan dan kejujuran Tokubei rupanya mengundang simpati pamannya. Muncullah rencana menjodohkan Tokubei dengan wanita kemenakan istri pamannya. Untuk melaksanakan rencana itu, pamannya sudah memberi uang sebanyak satu setengah juta yang diserahkan kepada ibu tiri Tokubei. Karena cinta Tokubei sudah jatuh pada Ohatsu, ia menolak rencana pamannya. Penolakan ini tentu saja membuat pamannya marah. Tokubei diusir dari Osaka. Ia juga harus mengganti uang yang sudah diterima ibu tirinya, ditambah dengan uang selama ia tinggal bersama pamannya.
Dengan berbagai cara, Tokubei berhasil mendapatkan uang sejumlah yang dituntut pamannya. Tetapi sebelum uang itu diserahkan kepada pamannya, Kuheiji, sahabat Tokubei, meminjamnya dan akan melunasinya sehari sebelum waktu yang ditetapkan pamannya. Pada hari yang dijanjikan Kuheiji, Tokubei jumpa dengan sahabatnya itu. Tetapi Kuheiji malah menuduh Tokubei hendak menipunya. Tokubei pun dianiaya Kuheiji dan teman-temannya.
Menyadari bahwa Tokubei mustahil dapat melunasi uang yang dituntut pamannya, ia menyampaikan masalahnya kepada Ohatsu, kekasihnya. Ohatsu juga menyadari, perkawinannya (di dunia) dengan Tokubei akan menghadapi kegagalan. Sepasang kekasih itu akhirnya bersepakat untuk mengakhiri hidup mereka di dunia, agar mereka bisa melaksanakan pernikahannya di akhirat.
Bersusah payah Tokubei dan Ohatsu pergi ke hutan Sonezaki. Di sanalah keduanya mengakhiri hidupnya. Di dunia, sepasang kekasih itu memang gagal melaksanakan perkawinannya, tetapi dengan cara melakukan shinju,
[16] terbukan jalan lempang untuk melaksanakan perkawinan mereka di akhirat.
Kasih tak sampai, juga diangkat Usman Awang dalam cerpennya “Uda dan Dara”.
[17] Percintaan Uda dan Dara akhirnya kandas lantaran perbedaan status sosial. Lamaran Uda yang miskin, ditolak Ibu Dara, karena keadaan keluarga Uda yang miskin tidak sebanding dengan keadaan keluarga Dara yang kaya.
Penolakan itu membuat Uda bertekad pergi ke kota untuk mengubah taraf hidupnya. Tetapi, karena terlalu payah bekerja keras, Uda jatuh sakit. Ia kembali ke desanya dalam keadaan sakit parah. Kematian pun segera menjemputnya, tanpa sempat berjumpa dengan Dara untuk yang terakhir kalinya.
Kematian Uda tentu saja membuat Dara, tidak hanya merasa sangat bersalah, tetapi juga membuatnya kehilangan gairah hidup. Ia mengabaikan pertunangannya dengan lelaki kaya, mengabaikan masa depannya. Dara pun sakit hingga maut menjemputnya. Pesan terakhirnya, ia dimakamkan di samping kuburan Uda. Dua makan berdampingan: “Uda dan Dara sebagai pelambang cinta kasih yang teguh dan murni” (hlm. 153).
***
Dua naskah drama Romeo dan Julia dan Sonezaki Shinju serta sebuah cerpen “Uda dan Dara” memperlihatkan sebuah tema yang sama: kasih tak sampai. Apakah praktik sastra bandingan sebatas membandingkannya secara tekstual? Dalam praktik sastra bandingan dikatakan, bahwa perbandingan itu dilakukan secara sistematik dan punya pertalian yang logis. Dari sana memang kemudian akan tampak adanya persamaan dan perbedaan. Kasus Romeo dan Julia, misalnya, dilatarbelakangi oleh permusuhan keluarga, sedang dalam Sonezaki Shinju penyebabnya didasari oleh “kepercayaan” sang paman atas kinerja dan pengabdian kemenakannya. “Kepercayaan dan penghargaan” itu kemudian direpresentasikan melalui keinginannya menjodohkan Tokubei dengan kemenanakan istrinya. Jika saja Tokubei menuruti kehendak pamannya, maka selain ia memperoleh kepercayaan yang makin besar dari pamannya itu, juga mendapatkan kedai sendiri untuk mengembangkan usahanya. Jadi, usaha yang dilakukan paman Tokubei sesungguhnya merupakan bentuk penghargaan dan sekaligus kepercayaan.
Dalam “Uda dan Dara” persoalan yang mendasarinya adalah perbedaan status sosial. Keluarga Uda yang miskin, tak layak bersanding dengan keluarga Dara yang kaya. Demikian juga, keyakinan Ibu Dara yang menafikan keteguhan cinta telah membutakan mata hatinya. Perkawinan, sebagaimana yang dijalaninya, cukup bermodalkan keikhlasan menerima, tanpa perlu harus didasari perasaan cinta. Itulah yang dijalani Ibu Dara yang ternyata juga berjalan baik-baik saja. Ia lupa, bahwa zaman telah berubah. Apa yang dijalaninya dulu, belum tentu cocok diterapkan sekarang.
Pertanyaannya kini: apakah praktik sastra bandingan cukup sampai menemukan persamaan dan perbedaan tekstual? Di sinilah sesungguhnya tujuan sastra bandingan menjadi penting jika persoalan persamaan dan perbedaan tekstual itu digunakan sebagai pintu masuk untuk mengungkapkan problem sosio-kultural. Maka, tujuan sastra bandingan akan bermuara pada pemahaman budaya berbagai bangsa yang justru menjadi ruh yang menjiwai karya sastra. Bukankah karya sastra pada hakikatnya merupakan representasi ruh kebudayaan yang melahirkannya?
Kasus Romeo dan Julia menunjukkan bahwa persaingan pengaruh antar-keluarga bangsawan kerap menciptakan korban para pengikutnya. Di sana juga tampak, bahwa posisi gereja begitu kokoh dan berpengaruh. Bagaimana mungkin Julia begitu percaya pada Pendeta Lorenzo hingga ia mempunyai keberanian untuk minum racun. Begitu juga adanya larangan jual-beli racun secara bebas, tidak hanya memperlihatkan maraknya penyalahgunaan racun pada masa itu, tetapi juga menunjukkan tingkat kemajuan dunia obat-obatan. Kematian Romeo oleh racun ganas dan “kematian sementara” Julia oleh racun yang prosesnya bekerja sampai pada waktu tertentu merupakan bukti mengenai kemajuan dunia obat-obatan di sana ketika itu.
Jika kasus yang dialami Julia terjadi dalam masyarakat Islam, tentu saja tidak rasional, karena kematian seseorang akan langsung dikuburkan ke dasar bumi, dan tidak ditempatkan dalam sebuah peti mati yang disimpan di pekuburan dengan posisi yang tertentu. Waktu itu, di sana juga sedang terjadi wabah penyakit lepra yang dianggap sebagai penyakit yang sangat berbahaya dan menakutkan. Wabah itu pula yang menyebabkan utusan pendeta Lorenzo gagal menjumpai Romeo dan memutuskan kembali ke Verona. Sejumlah hal itulah yang mestinya diungkapkan dalam praktik sastra bandingan sebagai bagian penting untuk memahami kondisi sosial-budaya masyarakat lain dari bangsa yang lain.
Mengenai kasus bunuh diri Romeo dan Julia menjadi tak penting secara ideologis, karena fokus masalahnya jatuh pada persoalan kesetiaan dan cinta suci. Keduanya –cinta dan kesetiaan—menjadi hal yang jauh penting dalam kehidupan ini. Jadi, kematian Romeo dan Julia adalah simbol ketika cinta suci dihalangi oleh dendam dan kemarahan. Romeo dan Julia adalah korban, betapa berharganya cinta bagi manusia.
Makna kematian Romeo dan Julia tentu saja berbeda dengan kasus kematian yang terjadi pada diri Tokubei dan Ohatsu. Bunuh diri bersama atas nama cinta (shinju)
[18] sesungguhnya dilandasi oleh sikap budaya dan sistem kepercayaan yang berlaku dalam masyarakat Jepang pada waktu itu. Shinju ‘bunuh diri bersama’ bagi Tokubei dan Ohatsu adalah pilihan yang tidak hanya untuk mempertahankan martabat dan harga dirinya,[19] tetapi juga representasi kepercayaannya pada dunia yang lain. Shinju merupakan pilihan untuk mewujudkan perkawinan di dunia yang lain. Pandangan atas kehidupan duniawi yang sementara (carte diem), kesetiaan sebagai sikap yang akan mengantarkan seseorang mencapai nirwana, dan kematian sebagai pintu masuk alam keabadian, menunjukkan sikap budaya dan sistem kepercayaan masyarakat Jepang pada masa itu. Di sana ada pengaruh kuat doktrin Buddha Zen.[20]
Bukankah apa yang dilakukan Tokubei dan Ohatsu tidak dapat dibenarkan jika tindakan yang sama dilakukan Uda dan Dara. Kematian Uda dan Dara melalui proses sakit merupakan pilihan yang paling dapat diterima berdasarkan sistem kepercayaan dan norma masyarakat yang melahirkan dan berlaku dalam doktrin Islam dan dunia Melayu. Dengan begitu, citra Uda dan Dara, tetap dalam posisi yang terhormat sebagai simbol cinta suci dua anak manusia. Uda dan Dara adalah korban ketika cinta dipandang dari sudut materi dan status sosial.
***
Demikianlah, praktik sastra bandingan pada akhirnya akan sampai pada muara persamaan tentang sifat dasar manusia. Di mana pun, kapan pun, dengan latar belakang kultur, ideologi atau agama apa pun, manusia tidak akan terlepas dari sifat dasarnya sebagai manusia. Masalah kemanusiaan pada dasarnya berlaku universal, dan itu telah diperlihatkan dalam tiga karya yang dibincangkan tadi. Dalam hal ini, sastra bandingan akan menghasilkan persamaan ketika yang diangkat adalah persoalan kemanusiaan.
Bahwa di sana ada perbedaan, perbedaan itu tidak terlepas dari persoalan kebudayaan dan kepercayaan yang mendekam dan berada di belakangnya. Praktik sastra bandingan mestinya mengungkapkan tidak hanya sampai pada persamaan dan perbedaan tekstual, melainkan juga pada persamaan kemanusiaan universal dan perbedaan sosio-kultural, ideologi, dan sistem kepercayaan.
Agaknya, gagasan ini patut dipertimbangkan.



Artikel ini adalah Kertas Kerja Seminar Kesusasteraan Bandingan Antarbangsa 2007 diselenggarakan Persatuan Kesusasteraan Bandingan Malaysia, Kuala Lumpur, 8—9 Juni 2007 di Menara Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.
Penulis adalah Staf Pengajar Program Studi Indonesia, anggota Departemen Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
[1]Webster’s Third New International of English Language Unabridged, (Massachusetts, 1966), hlm. 462.
[2] Rene Wellek dan Austin Warren, Teori Kesusastraan, terj. Melani Budianta, (Jakarta, 1989), hlm. 46--49.
[3] C. Hugh Holman, “The Nonfiction-Novel,” American Fiction 1940-1980: A Comprehensive History and Critical Evaluation, (New York, 1984), hlm. 94.
[4] Henry H. Remak. “Comparative Literature,” Newton P. Stalltnech and Horst Prenz (Ed.), Contemporarry Literature: Methode & Perspective, (Carbondale & Edwardsville, 1971), hlm. 1--7.
[5] Robert J. Clement, Comparative Literature as Academic Discipline, (New York, 1978), hlm. 8.
[6] Bandingkan novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939) dan Di Bawah Lindungan Kabah karya Hamka, dengan novel Magdalena (1964) dan Al-Yatim karya Al-Manfaluthi.
[7] Bandingkan puisi Chairil Anwar, “Krawang Bekasi” dengan puisi Archibald Macleish, “The Young Dead Soldier”. Periksa juga H.B. Jassin, Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, (Djakarta, 1956).
[8] Novel karya Natsume Soseki ini aslinya berjudul Wagahai wa Neko de Aru. Terbit pertama kali tahun 1905 di majalah Hototogisu (Cuckoo). Aiko Ito dan Greeme Wilson kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris tahun 1972.
[9] Mohd. Yusuf Hasan, Tikus Rahmat hampir menyerupai novel Animal Farm? Berita Minggu, 12 Mei 1974. Lihat juga, Umar Junus, Ikhtisar dan Analisa Novel-novel Melayu, (Kuala Lumpur, 1971), hlm. 60-68.
[10] Sapardi Djoko Damono menyebut “penerjemahan” karya sastra sebagai “pengkhianatan kreatif”, sebab menurutnya, penerjemahan karya sastra memerlukan kreativitas penerjemahnya, sehingga boleh jadi karya terjemahannya itu menjadi lebih baik daripada karya aslinya, sebagaimana yang dilakukan Chairil Anwar. Jika begitu, mestinya masalah saduran juga termasuk wilayah sastra bandingan.
[11]Trisno Sumardjo menerjemahkan Romeo and Juliet (1595) karya William Shakespeare dengan Romeo dan Julia (Jakarta: Pembangunan, 1955; cetakan kedua diterbitkan Pustaka Jaya tahun 1976). Nama Julia digunakan tentu saja dimaksudkan agar nama itu lebih akrab dengan pembaca Indonesia.
[12] William Shakespeare, Romeo dan Julia, terjemahan Trisno Sumardjo, Jakarta: Pustaka Jaya, 1976, hlm. 151.
[13]Satu contoh lain dapat dikemukakan di sini. Cerita Hayy Ibn Yaqzhan karya Ibn Thufail (1106—1185), misalnya, menyebarkan pengaruhnya begitu luas. Ibn Thufail tidak hanya berhasil mengintegrasikan deskripsi anatomi, astronomi, dan filsafat Islam sebagai naluri, intuisi, dan akal murni tokoh Hayy, tetapi juga menjadikan cerita itu secara tematbegitu menarik. Tidak sedikit pemikir yang menempatkan karya itu dalam kerangka pemikiran filosofis Ibn Thufail. Tetapi, banyak pula yang mengaguminya sebagai karya sastra yang bernilai tinggi. Penerjemahan Hayy Ibn Yaqzhan ke dalam banyak bahasa dan pengaruhnya yang luas merupakan bukti pentingnya karya itu. Dipercayai pula, Daniel Defoe (1661-1731) dalam karyanya, Robinson Crusoe (1719), Jonathan Swift (1667--1745) dalam Gullivers Travels, dan Rudyard Kipling (1856--1936) dalam Jungle Books (1894), langsung atau tidak, terpengaruh karya Ibn Thufail. Jika mencermati karya Ibn Thufail itu sendiri, beberapa bagiannya mempunyai persamaan dengan kisah Nabi Musa. Oidipus Sang Raja karya Sophokles atau cerita rakyat Pasundan, Sangkuriang dan Ciung Wanara, juga mempunyai beberapa persamaan dengan kisah Nabi Musa.
[14]Dalam kesusastraan Jepang, Chikamatsu Monzaemon dikenal sebagai Shakespeare-nya Jepang. Ia telah menghasilkan 130 naskah drama.
[15]Sonezaki Shinju yang digunakan sebagai contoh kasus tulisan ini berdasarkan terjemahan Darsimah Mandah (Belum dipublikasikan). Sonezaki Shinju dalam kesusastraan Jepang termasuk naskah drama bunraku, yaitu naskah yang dipentaskan dalam sebuah gedung kesenian. Ada dua jenis bunraku, yaitu sewamono dan jidaimono. Sewamono yaitu drama yang mengisahkan kehidupan sehari-hari masyarakat perkotaan pada zaman Edo sedangkah drama jidaimono mengisahkan peristiwa sejarah pada zaman Heian sampai zaman Muromachi, yaitu terjadi serangkaian peperangan para samurai dengan kelompok bangsawan.
[16]Shinju: Mati bersama dua insan yang tidak dapat mewujudkan cintanya di dunia. Dengan kematian itu, keduanya akan melaksanakan perkawinannya di akhirat.
[17]Cerpen “Uda dan Dara” dimuat dalam antologi cerpen Mekar dan Segar, diselenggarakan Asraf (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1959), hlm. 132—153.
[18]Shinju bagi masyarakat Jepang adalah perbuatan ksatria, terhormat, dan menunjukkan bahwa ia berada di jalan yang benar. Shinju juga sebagai representasi kebertanggungjawabannya sebagai manusia. Maka, shinju dipandang sebagai perbuatan yang sangat terhormat, sebagai bentuk tanggung jawab dalam menjalankan tugas, serta sebagai usaha menunjukkan kesetiaannya yang paling tinggi. Bagi masyarakat Islam tentu saja konsep itu tidak dapat diterima. Dengan demikian, penilaian atas satu kebudayaan atau kepercayaan, tidak dapat lain, harus berdasarkan kebudayaan dan kepercayaan yang bersangkutan, dan bukan berdasarkan kepercayaan atau kebudayaan lainnya.
[19]Pembahasan lebih lanjut tentang shinju, harakiri, jibaku, atau jisatsu, akan sampai pada konsep giri dan ninjo yang berkaitan dengan persoalan harga diri, tanggung jawab, kesetiaan, dan pengabdian. Jadi, bunuh diri punya makna positif sebagai bentuk kebertanggungjawabannya atas kepercayaan yang diemban, dan tidak sebaliknya. Sikap dan etika budaya itu telah tertanam sejak zaman Tokugawa (1603—1867) yang jejaknya sampai sekarang dapat dijumpai pada sikap para pejabat di Jepang yang mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab menjalankan tugas.
[20]Keyakinan Tokubei dan Ohatsu bahwa mereka akan melaksanakan perkawinannya di akhirat bersumber dari ajaran Buddha tentang rinne, yaitu perjalanan transmigrasi dan kelahiran kembali (reinkarnasi) sebagai hasil dari karya seseorang. Cinta suci kedua kekasih itu di dunia memang mendapat halangan, tetapi di akhirat mereka akan memperoleh buah dari kesetiaan berpegang pada cinta suci.
MAMAN S. MAHAYANA, lahir di Cirebon, 18 Agustus 1957. Lulus Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) tahun 1986. Sejak itu ia mengajar di almamaternya yang kini menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Tahun 1997 selesai Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Kini tercatat sebagai kandidat doktor di Universitas Kebangsaan Malaysia.Selain mengajar, ia banyak melakukan penelitian. Beberapa hasil penelitiannya yang belum dipublikasikan, antara lain, “Inventarisasi Ungkapan-Ungkapan Bahasa Indonesia” (LPUI, 1993), “Pencatatan dan Inventarisasi Naskah-Naskah Cirebon” (Anggota Tim Peneliti, LPUI, 1994) dan “Majalah Wanita Awal Abad XX (1908-1928)” (LPUI, 2000).
PENGHARGAAN:
1. Juara Harapan I Lomba Penelitian Ilmiah Bidang Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, 1990. Judul Penelitian: “Sitti Nurbaya dan Relevansinya dengan Kepribadian Bangsa”
2. Juara Harapan III Lomba Penelitian Ilmiah Bidang Ilmu Budaya Universitas Indonesia 1991. Judul Penelitian: “Antara Dajjal Mana Sikana dan Godlob Danarto”
3. Juara Harapan I Lomba Penelitian Ilmiah Bidang Ilmu Budaya Universitas Indonesia, 1995. Judul Penelitian: "Kebijaksanaan Jepang dalam Bidang Sosial Budaya: Studi Kasus Harian Asia Raja (1942--1945).
4. Peneliti berprestasi di lingkungan Universitas Indonesia (2003) yang karyanya dimuat dalam jurnal internasional.
5. Peneliti berprestasi di lingkungan Universitas Indonesia (2006) yang karyanya dimuat dalam jurnal internasional.
6. Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Soesilo Bambang Yudhoyono (2005).
7. Penulis Makalah Terproduktif di lingkungan FIB-UI (2005)
8. Penulis Makalah Terproduktif di lingkungan FIB-UI (2006)
9. Anugerah Serantau Pilihan Sagang dari Yayasan Sagang di Pekanbaru, Riau sebagai sastrawan serantau atas kontribusinya yang penting bagi perkembangan dan kemajuan dunia Melayu, khususnya kebudayaan Melayu di kawasan Riau, 20 Desember 2006.
10. Anugerah Sastera Majelis Sastera Asia Tenggara (MASTERA) ke-5 untuk kategori Sastera Bukan Kreatif (Non-fiksi) atas buku Sembilan Jawaban Sastra Indonesia (Jakarta: Bening Publishing, 2005, ix + 502 halaman, Kuala Lumpur, 27 November 2007.
11. Penghargaan Penulis Buku Teks Tahun 2007 untuk buku Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia (Jakarta: Grafindo, 2007), ix + 436 halaman, dalam rangka Dies Natalis ke-58 Universitas Indonesia, Depok, 2 Februari 2008.
12. Penghargaan Penulis Buku Ajar Tahun 2008 untuk buku Bermain dengan Cerpen (Jakarta: Gramedia, 2006), xiii + 385 halaman.
PUBLIKASI BUKU:
1. Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern (Jakarta: Grasindo, 1992), xii + 308 halaman, Cetakan II, 2007. 2. Kesusastraan Malaysia Modern (Jakarta: Pustaka Jaya, 1995), xiy + 175 halaman
3. Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia (Jakarta: Grasindo, 1997), xviii + 346 halaman
4. Akar Melayu: Sistem Sastra & Konflik Ideologi di Indonesia & Malaysia, (Magelang: Indonesiatera, April 2001), xiii + 301 halaman
5. Ragam Budaya Betawi (Jilid 1 untuk Kelas 4 Sekolah Dasar), Tim penyusun bersama Ridwan Saidi, Yahya Andi Saputra, Rizal, (Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Pemda DKI, 2002), 100 halaman.
6. Ragam Budaya Betawi (Jilid 2 untuk Kelas 5 Sekolah Dasar), Tim penyusun bersama Ridwan Saidi, Yahya Andi Saputra, Rizal, (Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Pemda DKI, 2002), 100 halaman.
7. Ragam Budaya Betawi (Jilid 3 untuk Kelas 6 Sekolah Dasar), Tim penyusun bersama Ridwan Saidi, Yahya Andi Saputra, Rizal, (Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Pemda DKI, 2002), 103 halalam.
8. Ragam Budaya Betawi (Jilid 1 untuk Kelas 1 Sekolah Menengah Pertama), Tim penyusun bersama Ridwan Saidi, Yahya Andi Saputra, Rizal, (Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Pemda DKI, 2002), 104 halaman.
9. Ragam Budaya Betawi (Jilid 2 untuk Kelas 2 Sekolah Menengah Pertama), Tim penyusun bersama Ridwan Saidi, Yahya Andi Saputra, Rizal, (Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Pemda DKI, 2002), 104 halaman.
10. Ragam Budaya Betawi (Jilid 3 untuk Kelas 3 Sekolah Menengah Pertama), Tim penyusun bersama Ridwan Saidi, Yahya Andi Saputra, Rizal, (Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Pemda DKI, 2002), 104 halaman.
11. Sembilan Jawaban Sastra Indonesia (Jakarta: Bening Publishing, 2005), ix + 502 halaman.
12. Bermain dengan Cerpen (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006), xiii + 385 halaman.
13. Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia
(Jakarta: Grafindo, 2007), ix + 436 halaman. 14. Bahasa Indonesia Kreatif, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2008.
15. Pantun Betawi: Refleksi Dinamika Sosial Budaya Masyarakat dalam Pantun Melayu—Betawi (Bandung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, 2008).







Sinopsis Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer

Di sebuah kampung nelayan yang jauh dari keramaian, hiduplah sebuah keluarga miskin yang kehidupannya menggantungkan dari laut. Mereka memiliki seorang anak gadis yang usianya baru berusia empat belas tahun. Usia yang belum cukup untuk mengarungi bahtera rumah tangga.Pada usai yang sedini ini dia sudah dinikahkan dengan seorang Bendoro dari kota yang diwakili oleh sebilah keris. Perkawinan mereka hanya disaksikan oleh ketua kampung yang sekaligus sebagai perwakilan dari kota. Setelah pernikahan dilangsungkan, Gadis Pantai itulah nama anak nelayan miskin itu langsung diboyong ke kota, ke tempat keluarga Bendoro tinggal.Kehidupan yang jauh berbeda dengan keadaan sewaktu di tempatnya sendiri membuat Gadis Pantai merasa dirinya dalam sebuah kerangkeng yang serba terbatas. Disekelilingnya tak ada yang pernah tersenyum dengannya, semuanya begitu kaku, hanya seorang pelayan tualah yang menjadi teman bicara dan teman bertanya dikala sedang merasa kesepian di kamarnya.Tiga bulan telah berlalu Gadis Pantai kini telah menjadi istri seorang Bendoro. Nama sebutannya pun sudah bukan Gadis Pantai lagi, melainkan Mas Nganten. Dalam waktu yang tiga bulan, Mas Nganten semakin tidak mengenal dirinya sendiri. Dengan perubahan-perubahan yang ada pada dirinya. Ini semua berkat bantuan pelayan tua yang senantiasa membingbing dan mengarahkan Gadis Pantai.Kehidupan yang serba terikat dalam gedung yang besar membuat Gadis Pantai merasa rindu akan kampung halamannya. Dia ingin pulang kembali ke kampungnya. Tapi apa mau dikata pelayan tualah yang selalu memuluhkan hatinya agar tidak kembali ke kampungnya sendiri.Setahun berlalu Gadis Pantai semakin dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang memaksanya harus begitu rupa. Tidak ada kejadian yang merasa dirinya atau keluarga Bendoro terganggu. Hal ini karena masing-masing memiliki tugas dan kewajiban berbeda, serta martabat yang berbeda.

Namun pada suatu ketika Gadis Pantai kehilangan dompet tempat uang belanjaan dapurnya. Uang itu untuk menghidupi seisi gedung. Gadis Pantai menjadi risih harus bagaimana dia mengadukan pada Bendoro. Sedangkan yang dicurigainya adalah masih kerabat Bendoro sendiri, setelah ditanyai dia tidak mengaku, malahan temannya yang lain ikut membelanya dan sebaliknya menghina pada Gadis Pantai. Namun pelayan tua yang menemani Gadis Pantai mengadukannya pada Bendoro. Bendoro menjadi murka setelah tahu pencuri dompet istrinya adalah kerabatnya, dia langsung mengusirnya dari gedung itu bersama dengan pelayan tua yang mengadukannya. Hal ini membuat Gadis Pantai merasa terpukul karena dia tidak memiliki lagi teman untuk mencurahkan perasaanya. Kepergian pelayan tua tidak membuat gusar Bendoro, karena pada waktu itu juga dia dapat menggantikan pelayan tua dengan seorang pelayan yang masih muda, Mardinah namanya pelayan itu. Dia masih kerabatnya Bendoro sewaktu ditanya oleh Gadis Pantai.Kadatangan Mardinah ke rumah itu sepertinya memiliki niat lain. Dia datang tidak hanya sebagai pelayan, tetapi ingin menghancurkan rumah tangga Gadis Pantai. Hal ini membuat Gadis Pantai ingin pulang ke kampungnya, dan Bendoro pun tidak merasa keberatan . Kepulangannya ke kampungnya harus diantar oleh pelayan barunya itu, yakni Mardinah. (Bagian 1) Gadis Pantai tidak pulang kembali bersama Mardinah ke kota, Gadis Pantai tinggal beberapa hari di kampungnya. Mardinah disuruhnya pulang terlebih dahulu bersama kusir yang mengantarnya sewaktu mereka datang. Selama di kampung Gadis Pantai tidak merasa seperti dulu. Semua orang memandangnya lain. Setiap orang yang dilihatnya langsung menundukkan wajahnya. Hal ini membuat Gadis Pantai merasa seperti dirinya asing bagi kampungnya sendiri. Bapaknya pun berlaku seperti orang lain, mereka seakan-akan baru bertemu dengan seorang pembesar.

Setelah empat hari tinggal di kampung, datanglah rombongan Mardinah yang akan menjemput Gadis Pantai dengan disertai empat orang pengawal. Nereka memaksa Gadis Pantai untuk segera pulang ke kota ditunggu oleh Bendoro. Sedangkan surat yang diberikan oleh Bendoro tidak diberikannya pada Gadis Pantai ataupun bapaknya sendiri. Hal ini membuat Bapaknya Gadis Pantai merasa curiga. Dugaan ini ternyata benar, dan Bapak mencari akal untuk membuktikannya, serta menyelamatkan anaknya yang ada dalam bahaya.

Akhirnya rahasia Mardinah terbuka, setelah taktik dijalankan. Mardinah mengaku disuruh Bendoro dari Demak untuk membunuh Gadis Pantai di perjalanan dengan diberi upah yang cukup besar. Mardinah mendapat hukuman dari warga untuk kawin dengan lelaki yang paling malas di kampung itu, yang bernama si Dul Pendongeng. Mardinah dapat menerimanya dengan lapang dada. (Bagian 2).Sepulang dari kampung Gadis Pantai merasa dirinya sedang mengandung. Hal ini langsung dibuktikan oleh paraji Bendoro sendiri. Bendoro pun tidak banyak omong tentang kepulangannya dari kampung. Tidak banyak ditanyakan oleh Bendoro. Hal ini membuat Gadis Pantai merasa tenang untuk mnyelamatkan kampung orang tuanya, yang telah membuat hilangnya pengawal Mardinah. Kandungannya menginjak waktu ke sembilan, saat itu Gadis Pantai sudah tidak sabar lagi ingin segera memiliki seorang anak, hal inipun sangat ditunggu-tunggu oleh bapaknya sendiri di kampung.Saat melahirkannya pun kini telah tiba. Kelahiran Gadis Pantai dibantu oleh seorang dukun beranak kepercayaan Bendoro. Gadis Pantai melahirkan seorang anak perempuan yang mungil seperti ibunya sendiri. Namun bagi kalangan priyayi anak perempuan kurang diharapkan. Hal ini kelihatan dari setelah melahirkan Bendoro tidak mau melihat keadaannya sehabis melahirkan. Apakah dia sehat atau tidak. Tidak pedulinya Bendoro dikarenakan anak yang baru dilahirkannya seorang perempuan.Tiga bulan setelah dilahirkan Bapak datang menjenguk Gadis Pantai secara tidak sengaja. Bapak dipanggil oleh Bendoro untuk menghadap. Namun setelah menghadap wajah Bapak tidak bahagia, Bapak murung tidak seperti biasanya. Kemudian Bapak menyuruh Gadis Pantai untuk segera membereskan pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam wadah.Gadis Pantai merasa kebingungan Bapak mengajaknya pulang. Namun, Bapak menjelaskan pada Gadis Pantai bahwa Bendoro telah menceraikannya, dan Gadis Pantai harus segera pulang dengan bapaknya. Gadis Pantai merasa terkejut, tapi apalah daya seorang sahaya seperti dia hanya menurut kehendak Bendoro. (Bagian 3)Walaupun dengan perasaan berat Gadis Pantai meninggalkan kesemuanya yang dimilikinya pada waktu digedung bersama Bendoro termasuk anak gadisnya yang baru tiga bulan dia lahirkan. Dalam perjalanan pulang Gadis Pantai yang sudah berubah menjadi Mas Nganten enggan untuk pulang ke kampung halamannya. Perasaan malu menghantui dirinya. Meskipun bapaknya tetap memaksanya untuk pulang ke rumahnya. (Bagian 4) Analisis Novel Gadis Pantai Berdasarkan hasil analisis maka penulis simpulkan bahwa novel Gadis Pantai memiliki bahasa yang baik dan komunikatif, kalimatnya oendek-pendek sehingga memudahkan untuk memahami isi cerita yang disajikannya. Penggunaan gaya bahasa dilihat dari nonbahasa, pengarang mengarah pada medium, yakni acuannya pada situasi sosial pemakainya.

Gaya bahasa yang dipakai dalam novel Gadis Pantai yang mengacu pada struktur kalimat adalah gaya bahasa sebagai berikut :
  • Klimaks
  • Antiklimaks, dan
  • Paralelisme

Kemudian gaya bahasa yang mengacu pada langsung tidaknya makna pada novel tersebut adalah :
  • Eufemisme,
  • Pleonasme,
  • Metafora,
  • Personifikasi,
  • Antitesis,
  • Asonansi, dan
  • Epitet.

Berdasarkan analisis kesesuaian bahan ajar, novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dapat dijadikan sebagai bahan ajar apresiasi sastra di SMU. Hal ini dapat ditinjau dari segi :

Aspek Bahasa Novel Gadis Pantai banyak terdapat kosa kata yang terinterferensi oleh bahasa daerah, sehingga dalam penyusunan kalimatnya pun banyak terpengaruh oleh bahasa daerah tersebut. Namun masih mempertimbangkan situasi dan pengertian isi wacana, sehingga tidak menyimpang dari referensi yang ada.
Aspek Kematangan Jiwa Novel ini memberikan pelajaran berharga bagi siswa agar dapat memecahkan berbagai fenomena kehidupan dengan kematangan jiwa dan pemikiran secara rasional.

Aspek Latar Belakang Latar belakang budaya dalam novel ini tidak memiliki kaitan langsung dan erat dengan sisi kehidupan siswa. Meskipun demikian latar belakang budaya pada novel ini tercatat sebagai sejarah latar belakang budaya bangsa Indonesia. Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer ini juga banyak memberikan nilai sosial, nilai moral, dan nilai agama bagi khidupan kita




By Syamsul















Wednesday, March 20, 2013

Tafsir Lirik Cinta dari Ahmad Dhani

Sebenarnya awal mula saya suka dengan lagu-lagu Dewa itu pas saya SMP sekitar tahun 2000an, saya suka dengan lagu dewa karena nada musiknya sangat enak sekali didengar, pas waktu itu Dewa tampil secara perdana dengan formasi baru: Ahmad Dhani (keyboard), Andra Junaidi (gitar), Once Mekel (vokalis) dan Tyo Nugros (drumer).[23] Kali ini Dewa 19 hadir dengan nama "Dewa" saja, tanpa embel-embel "19".


 

Pada tahun 2000, Dewa merilis album kelimanya bertajuk Bintang Lima. Awalnya banyak yang pesimis dengan formasi Dewa saat itu. Namun ternyata, album Bintang Lima justru meledak di pasaran, bahkan menjadi album tersukses sepanjang karier Dewa.[24] Dari 11 materi lagu di album tersebut, 6 di antaranya manjadi lagu favorit anak-anak muda di seantero tanah air. "Roman Picisan", "Dua Sejoli", "Risalah hati", "Separuh Nafas", "Cemburu" dan "Lagu Cinta" adalah lagu-lagu yang banyak direquest di radio-radio terkemuka di Indonesia.[24] Dewa mengadakan tur di 36 kota untuk mempromosikan album ini sekaligus memperkenalkan formasi baru mereka.[25] Melalui album ini, Dewa menyabet tiga penghargaan AMI Awards 2000, yaitu "Penyanyi/Group Terbaik", "Lagu Terbaik" ("Roman Picisan") dan "Album Terbaik".[26] Bintang Lima sukses terjual lebih dari 1,7 juta keping dan merupakan salah satu album terlaris di Indonesia.[2] Total penjualan album ini (asli dan bajakan) diperkirakan mencapai 9 juta keping.[9] Majalah Rolling Stone menempatkan album ini di posisi 96 dalam daftar "150 Album Indonesia.

Mas Agip

dulu saya gak kepikiran kalau lirik lagu dewa ada yang dalam  sekali maknanya. atas rekomendasi teman saya yaitu Mas Agip, dia menyarankan saya untuk mendengar lagu Dewa yang judulnya Hadapi dengan senyuman, pas banget buat kalian yang lagi putus cinta. lagu ini bisa digunakan untuk musik terapi hehehehe.... hayati dalam-dalam isi yang terkandung dalam lagu ini, yang intinya kita harus bisa menerima sebuah kenyataan hidup bagaimanapun itu dan kemudian ada lagi yang judulnya Air mata.... mas Agip juga menjelaskan kepada saya sebuah inti dari isi lagu-lagu tersebut. dari situ saya banyak sekali masukan-masukan tentang kehidupan... jika kami ketemu biasanya kami saling cerita tentang pengalaman hidup masing-masing dan bagaimana menyikapinya, walaupun sebenarnya pengalaman dia lebih banyak dari pada saya hehehe. dalam memberikan masukan, mas agip kesannya tidak menggurui, itu yang saya suka dari dia dan dia selalu bilang "kita sama-sama belajar, kita belajar dari siapa saja... kita juga bisa belajar dari anak yang usianya dibawah kita". jadi tidak heran kalau mas Agip banyak sekali teman-temannya dari usia muda, mulai dari yang alim sampai yang bejat hehehehe

Berikut ini adalah Lagu Ahmad Dhani yang Terinspirasi dari Sufi - Sufi Terkenal di Dunia :


1. MISTIKUS CINTA (terinspirasi dari Syekh EL Jallaludin Rumi)
 

"Ketika pertama kali jiwaMu ingin selalu. dekat dengan jiwaku yang belum bisa memahami segala. Arti pertemuan ini arti cumbu rayu ini. Yang mungkin bisa mengungkapkan kenyataan hidup yg terjadi."

Maksudnya: Seorang yg menempuh jalan menujuNya seakan-akan merasa bahwa ia yang menuju dan ingin mendekat kepada Nya, padahal sebetulnya DIA-lah yang mendekat dahulu sehingga orang tersebut berinisiatif untuk berjalan di JalanNya (karena pada hakikatnya semua intuisi , keputusan , tindakan adalah kehendakNYA, bukan kehendak orang/manusia).

"Ketika jiwaMu merasuk kedalam aliran darahku dan meracuniku. Ketika jiwaMu memeluk hatiku dan biarkan jiwaku cumbui jiwaMu"

Maksudnya: Lalu pada saat kita mulai mantap di Jalan Nya, kita akan merasakan tahapan di mana kita menyadari KehadiranNya, maka di manapun kita berada ke manapun kita memandang di sanalah Wajah-Nya (itulah makna logo sampul album LASKAR CINTA). Pada saat itulah terjadi Mabuk Illahi/Ekstase/ KERACUNAN ILAHI.
"ketika kamu aku melebur mjd satu. dan hanya waktu yg mungkin bisa memahami apa yg tjd. apa yg sedang kau rasa. apa yang sedang kurasa adl CINTA yang tak bisa dijelaskan dgn kata-kata."

Maksudnya : Dan pada tahap terakhir perjalanan spiritual terjadilah apa yg orang bilang dengan Wahdahtuh Syuhud / PENYATUAN KESAKSIAN. Di situlah terwujud kalimat tertinggi / terindah LA ILAHA ILALLAH / tiada Tuhan selain Allah / tiada yang lain selain Allah / tiada yang wujud melainkan WUJUD ALLAH / YANG ADA HANYA ALLAH SATU. di sini nurani kita sudah memancarkan cahaya ILLAHI kembali seperti waktu kita terlahir ke dunia dan ruh kita benar-benar terbebas dari bisikan syetan. Yang dapat mencapai kondisi ini ya Rosululloh, Khalifah, wali, dan orang-orang seperti kita? wah jauh.

2. INDONESIA SAJA (terinspirasi oleh syekh al-Hallaj)

"Aku bukan orang jawa aku juga bukan sunda. Aku bukan orang aceh. Aku juga bukan ambon. Aku bukan cina aku juga bukan arab. Aku bukan kiri aku juga bukan kanan. Aku bukan hijau aku juga bukan merah.  Aku hanya merasa aku orang Indonesia saja."

Maksudnya: pada masanya masing-masing agama itu adalah KEBENARAN (jaman Musa AS : Yahudi, Jaman ISA AS : Nasrani , Jaman Rasulullah sampe kiamat : Islam Mulia Raya ) isinya juga sama-sama pesan Tuhan, tapi karena jamannya berbeda, jadi bahasa , tata adat dsbnya ya berbeda tapi jangan kita terpaku pada dogma dan budaya ARABIAN yang kita serap mentah-mentah, Islam harus sesuai dengan zamannya agar aktual dengan manusia pada zamannya juga. Makanya perlu meriset ALQURAN(meriset Alquran wajibkan?…perhatikan makna tersirat dari surat yang pertama diajarkan kepada Rosululloh SAW. Di Alquran dikatakan kalimat ALLAH dapat menundukkan gunung, islam adalah kemenangan, dll tapi baru sebatas dongeng saja, kita-kita ini tidak berusaha membuktikan kebenaran Alquran padahal Teknologi Alquran itu jelas tak terhingga lebih hebat daripada teknologi nuklir sekalipun tapi kita tidak mau meriset alangkah bodoh dan khufurnya kita, kalau merubah Alquran hanya karena ketidakmampuan kita menterjemahkan dan meriset, hanya karena ketidakilmiahan kita, hanya karena nafsu & hasutan syetan, gak bakalan produk kita dapat menandingi produk Tuhan bahkan manusia mulai mengabaikan islam yang berakhir dengan salam keselamatan seluruh umat manusia.

Nabi saw. bersabda: “Hiduplah dengan setiap orang sesuai dengan kebiasaan dan wataknya.”, Muhammad SAW juga bersabda, “ajarkan agamaku sesuai dengan jamannya. Muhammad SAW juga bersabda, “Islam itu ilmiah dan alamiah. Apa gak malu kalau sebagai orang islam, kita dikatakan gak ilmiah atau gak modern/ketinggalan jaman….tentu ucapan Rosululloh harus bisa dibuktikan. Tapi gimana mau jadi ilmiah…kalau kita sebagai umat islam saja selalu memperdebatkan perbedaan pendapat…aliran yang pendapatnya beda dianggap sesat. Hingga semakin jauh kita dari ajaran rosullulloh SAW, tentang keharusan mencintai sesama muslim, mendoakan orang yang berbuat kejahatan kepada kita, saling mengingatkan dalam kebaikan, tidak merasa lebih beriman, karena yang mengetahui hati setiap orang hanyalah ALLAH…ALLAH hanya melihat hati, bukan wujud/penampilan umatnya (tidak sedikit umat muslim yang baru punya ilmu sedikit…sudah merasa lebih alim/beriman daripada orang laen(seperti iblis yang sudah merasa diciptakan dari api, sebagai sarjana surga….hingga tidak mau menghargai Adam, as yang terbuat dari tanah), itulah gambaran bagi orang yang hanya melihat penampilan.

3. ATAS NAMA CINTA
 Lirik: Katamu kau cinta aku. Demi Tuhan kau bersumpah. Katamu kau akan setia. Demi Tuhan kau berjanji. Begitu mudah mulutmu berkata. Atas nama Tuhan demi kepentinganmu. Reff. Atas nama cinta saja.Jangan bawa nama Tuhan

Kekuasaan Tuhan tak terbatas dan tidak dapat dipikirkan oleh manusia salah satu ciptaanNya, sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an “Dia berkuasa atas segala sesuatu”(Huwa ‘ala kuli shai’in qadir). Jadi hanya Tuhan yang demikianlah yang patut disembah. Karena itu segala macam perbuatan manusia tidak dapat dikaitkan dengan Tuhan. Bahkan manusia juga tidak akan bisa memikirkan & menganalisa tentang Tuhannya, tapi tugas kita merasakan kehadiran Tuhan.

4. NONSENS

 Lirik : Tak ada kebenaran hakiki yang ada cuma hanya Kamu di sana dan akulah milikMu. Keyakinan akan sebuah kebenaran. Bukanlah kebenaran kebenaran yang sejati. Bila tak benar diuji kebenarannya.

Maksudnya: KEBENARAN hakiki hanyalah milikNYA, kita sering dan bahkan selalu merasa benar cuma dari sudut pandang kita padahal sisi kebenaran sangat banyak. Nah…manusia yang memang sangat terbatas akalnya kadang tidak dapat menerima pernyataan TAK ADA KEBENARAN HAKIKI KECUALI MILIK TUHAN YANG HAQQ. Padahal kebenaran bagi kita belum tentu benar bagi mereka.

5. HADAPI DENGAN SENYUMAN


Lirik : Hadapi dgn senyuman. Semua yg terjadi biar terjadi. Hadapi dgn tenang jiwa semua akan baik-baik saja. Bila ketetapan Tuhan telah ditetapkan tetaplah sudah. Tak ada yang bisa merubah dan takkan bisa berubah. Maksudnya: dhani sebenarnya mengajak agar urusan dunia jangan dimasukkan ke hati, hidup adalah permainan. Hati ini hanyalah kita isi dengan CINTA kpd TUHAN saja. Maka akan ada DAMAI yg tercurahkan RAHMAT ALLAH.

Lirik : Relakanlah saja ini. Bahwa semua yang terbaik. Terbaik untuk kita semua. Menyerahlah untuk menang

Maksudnya: sebetulnya memang kunci kemenangan dunia akhirat memang itu. Menyerah berserah diri memang inti sari Islam Mulia Raya, Islam kan artinya = berpasrah serah diri pada kehendakNya. Karena segala keputusan itu hanya ALLAH yang pegang, bukan karena besarnya usaha kita atau doa kita yang terkabul. Berdoa adalah cara mendekatkan diri kepada ALLAH, ALLAH tetap memberi rahmat kepada orang yang tidak berdoa kepada-Nya kan?.

6. AKU TETAPLAH AKU



Lirik: Aku tetaplah aku begini. Kamu tetaplah kamu begitu. Aku tetaplah aku.

Maksudnya: ini sama aja = LAKUM DINUKIM WALIYADIN. Agamamu bagimu , agamaku bagiku bahkan bisa juga: Pemahamanmu bagi mu, pemahamanku bagi ku.

Nah! karena perbedaan inilah kadang umat muslim di Indonesia ribut-ribut. Yang benar menurut sebagian orang dianggap sesat. Nabi SAW telah mewasiatkan kepada umat ini bahwa perbedaan di kalangan umatku adalah rahmat. Sungguh, kemuliaan umat ini takkan pernah menjadi rahmatan lil’aalaamiin sepanjang umat tetap berpandangan picik terhadap perbedaan-perbedaan yang ada dan rosululloh bersabda, “Jangan kau umatku mengganggu wanita, anak-anak, tempat ibadah, binatang ternak, pohon-pohon.”. Berkat kesantunan dan kearifan Baginda Muhammad SAW inilah, gak sedikit lho musuh Rosul yang masuk islam.

ALLAH mengajak umatNya bertoleransi dalam “Jangan ada paksaan dalam beragama” (Albaqarah, 2:256). “Kalau Tuhan kamu menghendaki, maka akan berimanlah semua manusia yang ada di muka Bumi. Apakah kalian hendak memaksa manusia agar mereka beriman?”(Yunus, 10:99).

Jika kamu mempunyai kekuasaan, ingatkan pelaku maksiat dengan kekuasaanmu (tentu saja bagi para penegak hukum di pemerintah), jika tidak berilah nasehat/teguran (tentu saja secara pribadi, tidak mempermalukan, tidak membuka aib di depan umum seperti cara yang diajarkan Baginda Rosululloh SAW karena jika tidak syetan akan menyusup dan membuat kita merasa lebih beriman, ALLAH akan merendahkan derajat suatu kaum yang merasa lebih beriman dari kaum yang lainkan? (urusan lebih beriman atau tidak benar-benar urusan ALLAH kan?), jika tidak dapat memberi nasehat, maka doakanlah.

7. PANGERAN CINTA


Lirik : Semua ini pasti akan musnah tetapi tidak cintaku padamu. Karena aku sang pangeran cinta

Maksudnya: perhatikan surat Ar-Rahman ayat 27

8. KULDESAK


Lirik: Tolonglah TUHAN beri petunjukMu jalan yg benar menuju jalanMU agar tak tersesat dipersimpangan jalan

Maksudnya: Syair ini merupakan Doa dhani agar tidak tersesat karena ada hadist yang mengatakan bahwa di akhir jaman umat islam akan terpecah menjadi 73 aliran.

9. KEMBALI KE TIMUR

Menceritakan kekaguman dhani pada sosok Imam AL-GHAZALI seorang ahli fiqih, makrifat dan hakekat yang akhirnya menempuh jalan sufi. Imam Al-Ghazali terkenal dengan sebutan Hujjahtul Islam karena karyanya menjadi pedoman bagi ulama lain. Kata Ahmad Dhani, di luar negeri Al-Ghazali menjadi salah satu mata kuliah wajib di beberapa jurusan ilmu islam.

10. KOSONG



Lirik: Kosong yang kini kurasakan Kau terus membayangi aku. di dalam keramaian aku masih merasa sepi sendiri memikirkan Kamu, Kau genggam hatiku dan Kau tuliskan namaMu

Maksudnya : ini menceritakan kondisi seseorang yang telah berada pada maqam/tingkatan mencintai ALLAH meski jasadnya berada dalam keramaian/aktivitas dunia tapi hatinya dalam hal ini ruhnya bahkan pikirannya selalu mengingat Allah, karena nama Allah sudah tertulis dan tertanam di hatinya.

11. SATU

Lirik: Aku ini adalah diriMU, cinta ini adalah cintaMu, Jiwa ini adalah JiwaMu

Maksudnya: pernyataan tentang kesatuan kesaksian/bahwa ruh yang ada pada setiap manusia pada hakekatnya adalah ruh ALLAH (nurani). Ruh yang ada pada setiap manusia berasal dari ruang yang lebih tinggi dan bersifat malaikat. Ruh yang ada pada manusia dikirim ke ruang yang lebih rendah ini berlawanan dengan kehendaknya demi memperoleh pengetahuan dan pengalaman, sebagaimana Allah berfirman di dalam al-Qur’an, “Turunlah dari sini kamu semuanya, akan datang padamu perintah-perintah dari-Ku dan siapa yang menaatinya tidak perlu takut dan tak perlu pula mereka gelisah.” Ayat: “Aku tiupkan ke dalam diri manusia ruh-Ku” juga menunjukkan asal samawi jiwa manusia. Manusia yang akalnya terbatas dan pemikirannya cenderung pada konsep wujud akan menganggap bahwa pemikiran ini adalah sesat, seperti syetan yang tidak mau menyembah Adam (yang oleh allah telah ditiupkan ruhNya kepada Adam yg berisi 99 intuisiNya) dan karena malaikat memahami bahwa ALLAH menyuruhnya menyembah ruh ALLAH yg ada dlm jasad Adam..maka malaikatpun tunduk dan menyembah ruh ALLAH yg ada pada Adam.

Lirik : dengan tanganMu aku menyentuh dengan kakiMu aku berjalan dengan MataMu aku memandang

Maksudnya: Coba perhatikan ayat ALLAH, TANGAN-KU berada di atas tangan mereka, (Wajah-KU berada di atas wajah mereka ) (Q.S Al Fathu, 10), kalau mereka mengambil, aku tangannya, kalau mereka berjalan, aku kakinya, kalau mereka digempur Musuh, Aku lawannya, (H.Qudsi R.Bukhari): Jika Muhammad memanah, Aku yang memanah .! (Q.S. Al Anfal,17). Lirik : di setiap hembusan nafasku kusebut namaMu

Maksudnya : ajakan agar dalam setiap kita menarik nafas bahkan setiap detak jantung kita jangan pernah melupakan Allah, ajakan agar selalu berzikir menyebut namaNya setiap saat setiap waktu selalu bersamaNya agar jiwa kita ini (yang pada intinya setiap manusia hanyalah mampu menjadi sarjana dunia tapi syetan adalah sarjana surga yang usianya jauh lebih tua dari kita, agar tidak terpedaya oleh bujukan iblis maka kita harus mengingat Allah bahkan dalam tiap detak jantung kita). karena pada awalnya, ruhani/nurani kita dekat dengan Allah (ayat Alquran, “Aku lebih hampir daripada urat lehermu sendiri”), tetapi setelah ruh kita bersatu dengan nafsu dan diberi wujud yang indah yaitu jasad kita lalu mulai mengenal indahnya dunia maka rohani kita (yang berisi 99 intuisiNya) jadi semakin jauh dengan Allah makanya agar kembali dekat. Di Alquran perintah untuk selalu berdzikir Allah lebih banyak daripada perintah Sholat, sebagai mana rukun iman pertama beriman kepada Allah (Allah melihat tingkatan jiwa manusia, bukannya melihat penampilan. smoga kita tidak termasuk orang-orang yang terkena bujukan iblis dengan mencela keburukan orang laen hanya dengan mata & akal kita yang terbatas ini karena hanya Allah yang dapat mengetahui hati dan keilkhlasan umatNya. Ampuni kami ya Rabbi, ampuni kami yang khufur akan nikmatMu)

12. HIDUP INI INDAH

Lirik: Matahari menyinari seisi bumi, seperti Engkau menyinari ruh di dlm jasadku ini selamanya seperti hujan Kau basahi jiwa yg kering. Hidup ini indah, bila aku selalu ada disisiMu setiap waktu hingga aku hembuskan nafas yg terakhir dan kitapun bertemu.

Maksudnya: syair lagu ini dari doa, “ALLAAHUMMA NAWWIR QULUUBANAA BINUURI HIDAYATIKA KAMAA NAWWARTAL ARDHLO BI NUURI SYAMTIKA ABADAN ABADAN ABADAN BIROHMATIKA YAA ARHAMAR ROHIMIIN”.

Dhani mengingatkan penggemarnya agar selalu bersyukur kpd TUHAN setiap saat, karena Dhani mengetahui dalam ALQURAN sangat sedikit sekali umat yg bersyukur.

“Dan Ingatlah ketika Tuhanmu memberitahukan, jika kamu bersyukur, niscaya aku benar-benar akan menambahkan nikmat-Ku kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-nikmat-Ku, sungguh azab-Ku sangat pedih”. (QS.Ibrahim,14:7)

13. JIKA SURGA DAN NERAKA TAK PERNAH ADA




Lirik: Jika surga dan neraka tak pernah ada masihkah kau sujud kepadaNya. Apakah kita semua benar-benar sujud menyembah padaNya. Atau kita memang hanya takut pada neraka dan inginkan surga. Maksudnya: lagu ini juga diprotes oleh sebagian ulama, karena dhani dianggap menyebarkan aliran yang tidak mau surga dan neraka. Beberapa ulama memang berpendapat bahwa seorang hamba tidak akan bisa mencintai Allah, jadi hubungan manusia dengan Tuhan hanya sebatas ketaatan bukannya kecintaan. Jika kita mau berlogika, seorang direktur perusahaan akan lebih menyukai seorang pekerja yang motivasi kerjanya karena memang suka dan senang bekerja pada sang direktur daripada seorang pekerja yang motivasi kerjanya karena imbalan uang. Lagu ini merupakan refleksi dhani terhadap kenyataan umat islam di Indonesia, terhadap diri sendiri tentang CINTA-nya kepada TUHAN, terhadap kenyataan ajaran sebagian ulama yang hanya sebatas itung-itungan surga dan neraka serta antara dosa dan pahala.

Tidak sedikit ulama di Indonesia yang hanya mengajarkan agama sebatas pahala dan dosa, padahal dalam setiap niat sholat saja, umat selalu berniat “lillahi ta’allaâ karena Ridhlo ALLAH saja. Tapi kenyataannya, setiap amalan karena pahala semata.

TUHAN itu hanya satu dan bukan hanya milik orang islam, islam adalah agama untuk seluruh umat, ALLAH adalah TUHANnya seluruh umat. Dhani menuliskan dengan ALLAH LORD OF THE LORDS Tuhan dari segala sesuatu yg disebut orang sebagai Tuhan (pernyataan ini bagi orang yg tidak berpikir dgn akal, tentu akan menganggap bahwa dhani beranggapan bahwa TUHAN itu banyak, padahal dhani hanya melihat kenyataan bahwa Tuhan bagi setiap manusia itu satu tapi berbeda-beda bagi orang laen sehingga jika dihitung jadi banyak). Smoga kita tidak KHUFUR terhadap nikmat TUHAN.




(Sumber : Buku Makrifat Cinta Ahmad Dhani)