Sunday, October 2, 2011

Prosa Fiksi

Mata Kuliah      : Prosa Fiksi
Pokok Bahasan : Sejarah Cerita Pendek
Pertemuan Ke-1
Pembahasan
Sejarah Cerita Pendek

Tujuan pembelajaran                                  
Siswa mengetahu sejarah perkembangan cerita pendek. Mengetahui dan memahami isi cerita pendek setiap angkatan dan membandikan isinya. Hubungan cerita pendek dengan genre sastra yang lainnya. Cerita pendek sebagai karya sastra.

Selain puisi, roman, dan drama cerita pendek (cerpen) pun termasuk bagian karya sastra. Tentunya cerpen yang memenuhi criteria sastra sebagai barometernya – tetapi tidak mutlak – sebab seorang apresiator beragam sudut penilaiannya. Jelasnya cerpen merupakan cerminan jiwa pengarangnya; cerminan intelegensi, sikap, tanggung jawab pribadi, dan tanggung jawab kepada masyarakat.
Selaras dengan penjelasan di atas, bahwa bagian kesusastraan itu di antaranya cerita pendek, berarti cerita pendek perlu diapresiasi. Kesusastraan pun merupakan hasil seni atau perwujudan kebudayaan manusia, dengan jalan mengapresiasi karya seni tersebut dapat dinikmati. Menurut Sumardjo (dalam Pikiran Rakyat, 4 September 1992), bahwa kesusastraan merupakan salah satu bentuk ungkapan batin masyarakat, tentunya di samping karya-karya budaya lainnya. Untuk memperoleh hasil yang diharapkan dalam mengapresiasi sastra salah satunya dengan jalan pendekatan bidang kemasyarakatan dan kebudayaan, sebab bidang tersebut merupakan jawaban dalam bidang kesusastraan.
Cerpen hidup sejalan dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaannya, berarti cerpen pertama kali tumbuh di lingkungan masyarakat. Sejak kapan cerpen hidup di masyarakat Indonesia?
Perkembangan sastra Indonesia pertama kali ditandai oleh sastra Nusantara (daerah), misalnya dengan munculnya mantera, pantun, dongeng, legenda, dan sebagainya. Setelah terjadinya Sumpah Pemuda pada taanggal 28 Oktober 1928, pada waktu itu dicetuskan bahwa bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia. Pada periode itulah sastra Indonesia mulai tumbuh di Indonesia, di antaranya dengan terbitnya roman-roman berbahasa Indonesia. Tetapi kehadiran cerpen Indonesia baru terlihat sekitar tahun 1930-an. Sebetulnya cerpen Indonesia kalah berkembang oleh cerpen daerah – misalnya pada kesusastraan Sunda – perkembangan cerpennya sudah dimulai sekitar tahun 1928-an, sebagai contoh dengan terbitnya kumpun cerpen (carpon) berjudul Dogdog Pangrewong karya GS sekitar tahun 1928-an.
Cerita pendek sebenarnya berasal dari Mesir purba, sekitar 3200 SM. terbit cerpen Dua Bersaudara. Bahkan kisah Piramus dan Tisbi yang dibuat Shekespeare ke dalam drama disadur dari cerita pendek Yunani purba. Cerita pendek berkembang di Eropa dimulai sekitar tahun 1812 dengan munculnya penulis Jacob Grimm dan Wilhelm Grimm, mereka menerbitkan cerpen berdasarkan cerita rakyat. Sementara perkembangan cerita pendek Amerika sekitar tahun 1912, penulis Washington Irving yang memeloporinya. Jejak Irving diikuti oleh Edgar Allan Poe dan Nathanael Hawthorne, mereka membuat cerpen dengan masing-masing corak. Edgar Allan Poe menulis cerpen gothic yang seram, sehingga Edgar Allan Poe dinobatkan sebagai bapak cerita detektif. Sedangkan Nathanael Hawthorne cerpen-cerpennya bersifat filosofis.
Sekitar tahun 1936 cerpen-cerpen mulai mewarnai kesusastraan Indonesia. Kebangkitan cerpen di Indonesia ditandai oleh Balai Pustaka yang menerbitkan Teman Duduk karya M. Kasim. Selanjutnya Suman Hs dengan Kawan Bergelut-nya diterbitkan pada tahun 1938. Sastrawan Indonesia dalam membuat cerpennya pada waktu itu masih bercorak dan berorientasi pada cerita-cerita rakyat yang lucu.
Sejak tahun 1946 cerpen mulai hidup di Indonesia. Bersama waktu dan perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia nilai cerpen pun mulai berubah. Dahulu bercorak cerita rakyat, tahun 1940-an mulai bergeser pada kehidupan rakyat sehari-hari. Contohnya karya Hamka yang berjudul Di Dalam Lembah Kehidupan diterbitkan pada tahun 1940, warna kehidupan rakyat sehari-hari sudah terlihat, walaupun Hamka mengerjakannya secara sentimental.
Cerita pendek terus berkembang, penyebarannya dibantu oleh majalah, di antaranya Majalah Panji Pustaka, Panca Raya, dan Pujangga Baru. Para pengarang dalam proses kreatifnya semakin merekayasa, berusaha membuat cerpen-cerpen yang bermutu, salah satunya Idrus. Menurut Sumardjo (1980 : 52) bahwa Idrus mampu memperbaki mutu cerpen. Dibandingkan pengarang sebelumnya, karya Idrus lekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain kalimatnya ekonomis, tema pun dipilih sangat sederhana. Cerpen-cerpen Idrus diterbitkan oleh Balai Pustaka berjudul Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Cerpen Indonesia mengalami masa subur sekitar tahun 1950-an setelah era perang kemerdekaan. Buku-buku kumpulan cerpen menandainya, di antaranya kumpulan cerpen Subuh karya Pramoedya Ananta Toer (BP:1951); Yang Terempas dan Terkandas karya Rusman Sutiasumarga (BP:1951); Manusia dan Tanahnya karya Aoh KArtahadimaja (BP:1952); Terang Bulan Terang di Kali karya S.M. Ardan (Gunung Agung: 1955) dan lain-lain.
Pada tahun 1960-an muncul para penulis baru, cerpen-cerpen pun banyak yang terbit. Era tahun 1960-an perkembangan cerpen ditandai oleh kumpulan cerpen Rasa Sayange karya Nugroho Notosusanto diterbitkan Pembangunan tahun 1961; Trisno Sumarjo kumpulan cerpennya Daun Kering diterbitkan Balai Pustaka tahun 1962; Djamil Suherman kumpulan cerpennya Umi Kalsum diterbitkan Nusantara tahun 1963; dan lain-lain.
Memasuki era orde baru, bidang sastra pun terjadi pembaharuan. Para pengarang cerpen seolah bertualang, larut dalam pencarian wajah cerpen, walaupun pengaruh Barat nampak dalam cerpen-cerpennya. Bukan saja dalam bidang puisi muncul karya-karya eksperimental, bidang cerpen pun nampaknya begitu. Cerpenis muda saat itu, seperti Putu Wijaya, Danarto, Umar Kayam, Wildan Yatim, Budi Darma, dan lain-lainnya seolah mencoba menyodorkan alternatif gaya kepenulisan baru. Unsur ekstrinsik lebih diutamakan dalam cerpen-cerpennya, di antaranya ilmu filsafat.
Dewasa ini cerpen dijadikan barometer perkembangan sastra, tentunya di samping puisi, novel, dan drama. Bahkan cerpen lebih banyak disukai para penulis, sebab di samping penyaluran batin, cerpen menjanjikan upah yang tinggi dibanding puisi. Bukan saja majalah Horison menyajikan cerpen-cerpen sastra, media lain pun mulai menyediakannya, bahkan hampir di setiap daerah. Media ibu kota yang menyajikan rubrik sastra cerpen berkadar sastra, di antaranya koran Kompas Minggu, Suara Pembaruan Minggu, Media Indonesia Minggu, Republika Minggu, dan Koran Tempo. Untuk media daerah pun mulai membuka rubrik sastra dan budaya, di antaranya Bali dengan koran Bali Pos, Jawa Timur dengan koran Jawa Pos, Jawa Tengah dengan koran Suara Merdeka, dan Jawa Barat dengan koran Pikiran Rakyat.
Media massa memang besar jasanya terhadap perkembangan cerita pendek, sebab cerpen-cerpen para penulis tersebut sebelum dibukukan banyak yang dipublikasikan terlebih dahulu di media massal. Jadi, koran dan majalah besar jasanya terhadap perkembangan cerpen, terutama pencetakan penulis baru. Para pengarang yang dilahirkan oleh Horison, Kompas dan Suara Pembaruan dekade 1980-an, di antaranya : Leila S. Chudori dengan kumpulan cerpennya Malam Terakhir (Grafitti: 1989); Seno Gumira Adjidarma kumpulan cerpennya Manusia Kamar (Gramedia: 1989); dan Yanusa Nugroho dengan kumpulan cerpennya Bulan Bugil Bulat (Grafitti:1990).

Contoh Cerita Pendek
Irigasi Bojong Loa
Cerpen: Beni Setia


SETELAH tiga bulan menghilang, si "Robohnya Surau Kami" akhirnya muncul di rumah. Mematung depan pintu terbuka, menunggu salah seorang dari kami menandai dan menemuinya - menanyainya. "Saya mencari Ahmad Bajuri, wartawan dan pengarang," katanya, seperti tiga tahun lalu ia memulai kunjungan perkenalannya, dengan tas kresek di tangan dan gitar di punggung.
Aku tertawa. Mengajaknya masuk, menawarinya rokok, dan menyulut sebatang sambil menunggu dua gelas kopi dibuat di dapur. Ia agak mabuk. Ia anak belakang yang biasa bergerombol di pos Kamling dekat jembatan irigasi yang ada di kiri gang yang memuara ke jalan utama. Ada pohon ketapang besar di sana, ada tepi jembatan beton yang teraling matahari sore di sana, dan tak ada kelompok becak dan warung di situ sehingga anak-anak biasa bergerombol sejak petang sampai tengah malam. Bergitar. Bernyanyi. Minum. Mabuk.
Mungkin memeras recehan dari yang lewat meski tak pernah dilakukan padaku. Mungkin karena aku wartawan. Mungkin karena aku kadang memberi mereka rokok. Dan berkali-kali mengajari tehnik yang benar dalam menekan senar gitar dengan tekanan jari dan hempasan atau garukan jari dari tangan lain agar dicapai nada sesuai kunci yang tepat. Dan sekali aku mengongkosi mereka ikut Lomba Musik Jalanan, dan dapat juara harapan 2 - lantas sebagian dari mereka jadi pengamen di bis kota dan restoran kaki lima.
Si "Robohnya Surau Kami" salah satunya. Yang sekarang berkunjung sambil membawa satu kresek kaset-kaset lagu rock, yang diletakkannya secara amat hati-hati, dan gitar yang disandarkan di kursi samping seakan-akan itu orang. Mengeluarkan rokok dan menyulut sebatang. Menikmatinya, seakan perang usai dan dunia mulai memasuki kedamaian baru. Ritualistik sekali. Khas.
* * *
NAMANYA Komarudin, dan anakku yang memberinya gelar si "Robohnya Surau Kami" - cerpen AA Navis. Sebuah rekaan yang berbicara tentang Tuhan yang marah pada orang Indonesia, yang ditakdirkan hidup di negara subur, yang tak dimanfaatkan untuk mensejahterakan bangsa, sibuk gontok-gontokan antar sesama, tak berdaya saat kekayaan alamnya dikeruk pihak asing, dan melulu beribadat agar masuk Sorga. Tapi mereka tak dimasukkan ke Sorga karena melakukan dosa sosial, alpa pada kewajiban kekhalifahan manusia yang ditakdirkan ada di satu tempat untuk memakmurkan tempat itu.
Dan Komar - entah dari mana, mungkin dari pelajaran bahasa dan sastra Indonesia sebagai lulusan SMA - menangkap seluruh adegan itu sebagai sebuah realitas hari pengadilan. "Kalau kita mati, dan ditanya Tuhan," katanya, sambil berdiri dalam setengah mabuk, "kita diam saja. Biarkanlah Tuhan yang buat deskripsi dan kita cuma mengangguk saja. Jangan sok suci, jangan PD macam para kiai dan orang masjid, yang bikin Tuhan marah karena klaim-klaim yang berlebih - sehingga digusur ke neraka. Kita diam saja. Kita pasrah saja. Kita ini seniman. Tak pernah usil. Tak ingin menyakiti orang lain. Selalu berdoa sebelum berkarya. Dan kalau lelah susah tidur minum sedikit agar tak usil dan jail pada orang lain."
"Dan kita tetap masuk neraka?"
"Tak lama. Pasrah saja - daripada sok benar dan protes pada Tuhan?"
Aku tertawa. Komar tersenyum. Menyeruput kopi yang dituang pada pisin alas mangkuk kopi. Menyulut rokok. Memusatkan perhatian. Dan meloncat pada pokok persoalan lain. Fokus meski penuh loncatan. Dan minta tanggapan tentang anggapan Islam yang tidak membolehkan gambar wajah dan patung sosok. Aku bilang, itu hanya alasan agar orang tak terlalu mengistimewakannya, memuja mujanya sebagai kesempurnaan sehingga melupakan Sang Maha Pencipta. Ia manggut-manggut, dan menuntut tanggapan pribadi. Aku bilang, aku suka gambar wajah dan patung sosok.
"Habis indah sih."
Komar tertawa. Tawa yang lepas dari lubuk hati paling dalam.
* * *
EMPAT tahun lalu ia punya pacar dan mereka tampaknya sepakat jadian sampai ada yang mengadukan kebiasaannya mabuk - selain masih menganggur. Percintaan itu putus. Ia terpuruk. Tenggelam dalam minum, total bergitar dan berteriak lantang menembangkan segala lagu populer sejak petang sampai dini hari. Latihan vokal yang hebat, pikirku - karenanya aku mampir dan memberikan advis tehnis sambil lalu. Tapi Komar sangat bersungguh-sungguh. Over serius malah.
Ia ikut lomba, dan serius ngamen. Kemudian pamit, karena diajak cukong yang mau bikin band baru - Getret, namanya - dan tertarik pada lengkingan vokalnya. Aku mendorongnya. Aku bilang agar ia makin serius melatih ketepatan grip dan seterusnya. Aku minta agar tiap nada yang dipilihnya pasti sekaligus agar bisa disalin dalam notasi angka - belum not balok - secara pasti. "Itu modal agar kamu bisa ngarang lagu. Bikin melodi yang akan gampang dibuatkan liriknya oleh siapa saja," kataku. Komar menatap. Tidak percaya diri. Dan aku mendorongnya untuk berani.
Dan sekarang ia muncul di rumah, dengan tas kresek berisi koleksi kaset, dan gitar tersampir di punggung - aku ingat gaya Bon Jovi - dan bilang ingin bertemu. Aku mengajaknya duduk, dan merokok sambil menunggu kopi dari dapur. Ia tampak berkonsentrasi. Mengumpulkan keberanian buat siap memulai sederetan kata yang akan mengungkapkan tujuannya mampir. Aku menatap. "Ada apa?" kataku, membuka kran keberanian berterus terang. Komar tersentak. Menata gitar dan memainkan beberapa kunci yang tepat dengan berurutan.
"Aku mengarang lagu, Bang."
"Yang itu?"
"Ada beberapa. Tolong diberi kata-kata," katanya, tersipu. Aku Mengacungkan jempol. Mengambil kertas dan pulpen. Minta agar ia memainkan varian chord itu sekali lagi. Mencoba membuat transkripsi tertulis tanpa lirik, lalu bersama-sama membuat lirik. Sampai tengah hari kami bisa membuat tiga buah lagu - anakku ikut nimbrung dan bernyanyi, diikuti oleh beberapa teman Komar yang biasa nongkrong di jembatan. "Ini hari besar Blok Irigasi," kataku, "siapa tahu lagu ini sukses." Mereka berteriak. Orang-orang tua datang. Mendukung. Tertawa. Dan dengan tulus mendoakan Komar - mata Komar berkaca-kaca.
* * *
TUJUH bulan kemudian album Getret ke luar. Salah satu lagu ciptaan Komar, "Blok Irigasi, Bojong Loa", meledak. Lagu itu bercerita tentang anak-anak muda yang selalu nongkrong di jembatan, dekat pos Kamling bawah teduh pohon ketapang, yang bernyanyi dan mabuk dari petang sampai dini hari, tapi tak pernah berkelahi dan mengganggu orang lain. Yang videoklipnya dibuat di jembatan itu dengan memanfaatkan anak-anak. Aku tersenyum. Komar bangga.
Malamnya dan diam-diam ia bertanya tentang apa yang harus dilakukannya.
Aku tersenyum. Meminta agar ia selalu berlatih karena itu modalnya, dan modal itu harus dipelihara dengan tubuh yang sehat. Aku minta agar ia tak terlalu banyak minum, cukup istirahat, cukup makan, dan berolahraga. Masa depan ma-sih panjang dan itu harus dikunci dengan tetap sehat dan kreatif. Komar tersipu. "Apa Wartini akan kembali padaku? Orang tuanya akan mengembalikannya?" katanya. Aku menelan ludah. Mengajaknya duduk di pojok.
"Mungkin akan kembali. Tapi apa kembali karena cinta atau karena kamu sudah jadi selebriti?" kataku. Komar tersenyum. Tapi aku minta agar ia mencari tahu isi hati Wartini, dengan menulis lagu tentang cintanya pada Wartini. Lagu yang meledak - ada lima versi lagu di lima album - tapi tak pernah mengembalikan Wartini. Ya! Karenanya aku membujuk agar bersabar, karena siapa tahu Tuhan akan mengganti Wartini dengan perempuan yang memang jodohnya. Komar tersenyum. Cuma tersenyum ketika aku menyuruh menginvestasikan penghasilannya secara hati-hati, karena (siapa tahu) itu harta yang disediakan Tuhan bagi anak-anaknya.
Dan sampai usia 33 tahun Komar masih saja mabuk dari petang, lalu lantang bernyanyi sampai dini hari - di mana pun, kapan pun. ***

No comments: