Sunday, December 9, 2012

Demam India



Sekarang ini saya sedang tidak membicarakan suku Indian di Amerika, melainkan orang-orang India. Mungkinkah demam India akan kembali terjadi, seperti pada tahun-tahun yang lalu, ketika para wanita dengan setia menanti kehadiran Sarukh Khan, Amir Khan, dan rekan-rekan lainnya di layar kaca. Mengapa tidak? Tentunya saya memiliki alasan yang cukup masuk akal akan hal ini. Ditelusuri mulai dari mengapa film India dahulu bisa begitu larisnya di Indonesia? Didukung dari unsur eksternal dan internalnya, tidak heran film-film India dapat kita terima dengan mudah (dahulu).




Terlebih lagi, boleh kita lihat bahwa kebanyakan dari sutradara dan produser sinetron di Indonesia merupakan keturunan bangsa India. Hal ini pertama-tama sudah membuktikan bahwa bangsa India memang berbakat dalam urusan perfilman dan seni lainnya. Dan jangan lupa, bahkan mereka mempunyai tempat industri film tersendiri, seperti layaknya Hollywoodnya Amerika, mereka hadir dengan nama Bollywood. Negara kita sendiri memang produksi sinetronnya cukup kencang, akan tetapi belum sekencang mereka yang sampai bisa menghadirkan Bollywood.

Kalau banyak ibu-ibu rumah tangga yang mengelu-elukan pemain-pemain pria India yang nan tampan tersebut, Indonesia juga tidak kalah tampan kan? Terlebih lagi, film-film India memiliki suatu ciri khas tersendiri yang selalu terngiang-ngiang di kepala. Suatu ciri khas yang merupakan bagian dari servis ekstra untuk menghibur dan menyegarkan penonton dari kisah yang terlampau panjang dan untuk mencegah kebosanan ditengah menonton.

Memang akhir-akhir ini perindustrian film Indonesia cukup ramai dengan kehadiran beberapa film yang berkualitas seperti Laskar Pelangi, akan tetapi tidak semuanya berkualitas. Beberapa dari mereka ada yang hadir dengan menjual humor garing dan tubuh-tubuh aduhai pemainnya, bukan dari segi kualitas cerita. Disini merupakan titik poin pertama kurangnya kita dalam menanggapi trafik industri perfilman internasional. India yang dahulu kerap kali hadir dengan cerita-cerita cintanya yang mengharukan memang berhasil menarik perhatian, namun seiring dengan perkembangan waktu, mereka pun membuat genre film yang semakin beragam.

Terbukti dengan hadirnya sebuah film pemenang piala Oscar terbanyak, Slumdog Millionaire. Mengisahkan tentang perjuangan seorang anak jalanan dari kasta bawah yang berusaha untuk memperbaiki hidupnya dengan mengikuti suatu kuis televisi yang telah mendunia, Who Wants to be a Millionaire?. Memang dia tidak pernah mengecap pendidikan resmi darimana pun, akan tetapi dengan pengalaman-pengalaman hidupnya selama ini, dia berhasil memecahkanpertanyaan-pertanyaan tersebut. Terlebih lagi dia tidak termakan tipu daya licik sang Host yang berusaha untuk membuatnya gagal. Semua usahanya ini dilakukannya tanpa putus asa untuk kekasihnya yang ditawan oleh gangster yang memiliki dendam padanya. Demikian kisah singkatnya, namun akan lebih baik anda menyaksikan film ini karena berkualitas.

Dengan waktu yang singkat, film ini berhasil menarik perhatian masyarakat dunia akan kehadirannya. Memenangkan berbagai penghargaan di ajang Academy Award juga semakin mengangkat namanya. Terlebih lagi Soundtracknya yang enak didengar serta tarian-tariannya, editing, dan lain-lain, sungguh keren. Khususnya Jai Ho, yang kemarin itu juga memenangkan sebuah piala Oscar. Kemenangannya ini bisa saja kembali menyemangati para director dan producer film India untuk kembali mencetak kesuksesan. Dan bisa-bisa, kita akan ditendang.

Akhir kata, pesan saya, tidaklah menjadi sebuah sesal untuk mencoba suatu hal yang baru. Biarpun kita tidak tahu akan bagaimana hal itu memberi efek pada hidup kita, tapi keyakinan akan selalu membimbing kita kearah yang benar. Jadi tontonlah film ini tanpa keraguan.

No comments: