Saturday, May 26, 2012

Kenakalan Siswa Setelah Kelulusan

Artikel ini sengaja saya tulis karena tadi bangun tidur trus nonton TV, saya melihat berita para siswa dan siswi  SMA pesta Miras untuk merayakan kelulusannya. bahkan tadi sempet browsing ada yang Pesta Seks. Entah apa yang ada di pikiran mereka. kalau menurut saya pribadi, para alumnus SMA tersebut sebenarnya adalah anak-anak yang kurang perhatian pas dia bersekolah dulu, entah itu perhatian dari Guru, Orang tua, dan Masyarakat umum. kekurang perhatian tersebut bisa terjadi karena ada beberapa faktor, antara lain :
  • Siswa kurang berprestasi / siswa yang biasa-biasa saja
  • Kekurang dekatan hubungan antara Guru dan Siswa
  • Bisa juga karena faktor pendidikan orang tua menyebabkan minim pengetahuan pola prilaku anak sehingga anak jadi korbannya. Tanpa pengawasan dan perhatihan orang tua akhirnya seorang anak bebas melakukan apa saja.
dari beberapa faktor yang saya sebutkan tadi, bisa saya simpulkan mereka bosan dengan kehidupan mereka yang begitu- begitu saja. sedangkan masa remaja merupakan masa keingin tahuan terhadap sesuatu yang mereka lihat dan rasakan sangat tinggi. berbekal keingintahuan tadi timbul rasa coba-coba yang menyebabkan mereka ketagihan. dan masa remaja merupakan masa pencarian jati diri.


jadi dengan melakukan kenakalan-kenakalan di atas tadi mereka merasa diperhatikan walaupun dengan citra negatif. dari permasalahan tadi, ada beberapa alternative solusi bisa ditawarkan; pertama, pendidikan keluarga pertama dan utama. Pendidikan keluarga merupakan hal yang sangat peting karena disinilah pondasi dasar karakter anak terbentuk. Kesibukan kerja, masalah ekonomi bukan jadi alasan untuk tidak memperhatikan anak. Anak adalah amanah yang sangat berat diberikan Tuhan. Jika anak menjadi tidak bermoral atau tidak berahklak, maka orang tua dimentai pertanggung jawaban terlebih dahulu di akhirat nanti. Orang tua harus ‘belajar’ mendidik seorang anak atau dikenal dengan istilah ilmu parenting. Belajar disini bukan harus dimaknai dengan sekolah dan membaca buku, tetapi belajar bisa dilakukan dengan cara memberikan yang terbaik untuk calon generasi penerus.
Oleh karena itu, pola asuh zaman dulu, tidak bisa disamakan dengan masa sekarang, problematika anak sangat beranekaragam, maka dituntut menggunakan ‘jurus-jurus’ baru. Minimal yang dilakukan oleh orang tua adalah memberikan tauladan yang baik terhadap anak, selalu mendo’akan anak ketika sholat, dan memperhatikan pendidikan anak ketika mendapat tugas dari sekolah.
Kedua, kerjasama antara pihak sekolah dengan pihak keluarga. Kerberhasilan dalam dunia pendidikan tidak bisa dibebankan oleh pihak sekolah saja, tetapi perlu kerjasama dengan pihak keluarga dirumah. Karena waktu di sekolah hanya kurang lebih delapan jam saja, selebihnya waktu yang lama berada dirumah. Akan tetapi tetap tanggungjawab sekolah untuk mewujudkan harapan orang tua. Program-program sekolah harus sinergi dengan program di rumah. Di sekolah sudah ada komite sekolah, yang merupakan wakil wali murid di sekolah, sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk melakukan mensinergikan program-program di sekolah. Sayangnya di sekolah-sekolah kebanyakan komite sekolah hanya sebagai ’stempel’ untuk mencairkan sebuah dana dari lembaga tertentu.
Komite sekolah seharusnya menjadi pengawas dan control terhadap pihak sekolah jika melakukan pelanggaran atau tidak melaksanakan program sekolah. Peran dan fungsi komite sekolah saat ini bisa dikatakan nol. Maka perlu di revitalisasi peran dan fungsi komite sekolah.
Ketiga, Peran dan fungsi guru dioptimalkan. Guru sebagai ujuk tombak di lapangan dalam membentuk prilaku anak. Sebagus apapun program mengatasi anak di sekolah, apabila tidak didukung dengan peran guru maka tidak ada hasilnya. Saya ilustrasikan, Ibarat ada mobil yang bagus tapi tidak ada yang menggerakan maka mobil tersebut akan mogok ditempat. Disinilah pentingnya peran guru disekolah, selain mempunyai tugas untuk menstranfer ilmu pengetahuan tetapi juga memiliki kewajiban untuk membentuk karakter anak.
Untuk membentuk karakter anak, maka guru-gurunya juga harus berkarakter. Pribahasa orang jawa, guru itu digugu lan ditiru. Artinya bahwa baik buruknya tingkah laku guru, secara tidak langsung akan dicontoh oleh siswanya. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen bersama antara guru dan pengurus sekolah. Untuk menyatukan satu komitmen antara guru dengan pengurus sekolah, maka diperlukan keterbukaan, komunikasi yang itensif, persamaan visi bahwa mencerdaskan dan membentuk ahklak anak adalah perbuatan yang yang mulia.
Keempat, Peran guru bimbingan konseling (BK). Guru Bimbingan konseling (BK) di sekolah, yang dianggap memiliki pengetahuan lebih dari sisi psikologi seorang anak, diharapkan mampu menyelesaikan persoalan anak secara komperhensif. Jika terjadi pelanggaran maka tidak sepatutnya langsung dihukum tetapi dicari akar masalahnya.
Dalam hal pelaksanaan sebuah aturan butuh ketegasan dan kebijaksanaan. Bersikap tegas, Jika anak-anak yang melanggar kategori berat dan sering melakukanya, maka diberikan sanksi atau hukuman sesuai dengan perbuatanya. Dengan diberi sanksi biar anak jerah tidak mengulang perbuatan itu lagi. Bersikap bijaksana, jika pelanggaran anak tidak terlalu berat, maka perlu pembinaan oleh BK dalam prilaku sehari-harinya disekolah.
Memang harus kita menyadari bahwa tanggung jawab mengatasi masalah di atas adalah tanggung jawab bersama. Baik orang tua, sekolah, guru dan semua pihak yang peduli terhadap masalah anak.

No comments: